BI Yakin Aliran Dana Asing Deras Usai Pilpres

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 19:36 WIB
BI Yakin Aliran Dana Asing Deras Usai Pilpres Gubernur BI Perry Warjiyo yakin setelah Pilpres 2019 aliran dana asing masuk akan deras. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan aliran dana asing melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan portfolio akan mengalir semakin deras setelah Pemilihan Presiden 2019. Perkiraan tersebut dibuat karena mereka memproyeksikan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed tidak akan mengubah suku bunga acuannya, Fed Rate sepanjang tahun ini.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan masih akan melambat karena tingkat pendapatan di negara tersebut menurun dan terbatasnya stimulus fiskal. Selain itu, inflasi yang tidak terlalu tinggi juga kemungkinan membuat The Fed pikir-pikir ulang sebelum menaikkan suku bunga acuannya.

Hal tersebut, kata Gubernur BI Perry Warjiyo akan mempengaruhi skenario kebijakan suku bunga BI. Sebelumnya BI memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga satu hingga dua kali di tahun ini.


Tapi saat ini BI malah meramal The Fed tidak akan menaikkan suku bunga hingga tahun depan. "Ini yang buat kami optimis bahwa aliran modal akan terus masuk ke Indonesia. Sebab, perbedaan suku bunga (acuan) di dalam dan luar negeri akan semakin lebih tinggi, sehingga investasi portfolio dan SBN akan semakin menarik," jelas Perry, Kamis (25/4).


Ia berharap dengan kondisi tersebut tren arus modal masuk (capital inflow) di kuartal II bisa lebih baik dibanding kuartal I yang hanya US$5,5 miliar. Perry mengatakan selain The Fed, arus modal masuk ke dalam negeri juga disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian kokoh.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi kuartal I Indonesia diperkirakan bisa menyentuh 5,2 persen. Pertumbuhan didukung oleh konsumsi yang kuat tertopang inflasi sebesar 2,48 persen secara tahunan di bulan Maret dan kebiijakan penyaluran bantuan sosial.

BI meramal dua faktor tersebut akan memberikan keyakinan bagi pelaku pasar; imbal hasil investasi di dalam negeri di masa depan masih menjanjikan. "Dengan prospek yang lebih baik, tentu saja ini memberikan ekspektasi bahwa menanamkan di sekuritas termasuk equity akan semakin baik," jelas dia.

Dengan aliran tersebut menurut Perry, neraca transaksi modal dan finansial diharapkan akan tetap surplus setidaknya sampai semester I mendatang. Bahkan, ia yakin nilainya bisa menutupi defisit transaksi berjalan sehingga neraca pembayaran hingga Juni mendatang bisa kembali mencatat surplus.

[Gambas:Video CNN]

Untuk kuartal I, meski belum ada data yang pasti, indikasi bahwa neraca transaksi modal dan finansial lebih tinggi dari defisit transaksi berjalan terlihat dari cadangan devisa yang terus bertambah.Hingga Maret kemarin, cadangan devisa tercatat US$124,5 miliar atau naik US$1,27 miliar dibanding Februari.

Sementara untuk kuartal II, Perry masih yakin aliran modal masuk masih akan tetap lebih tinggi dibanding defisit transaksi berjalan. Meski memang, defisit neraca berjalan secara tren akan membengkak di triwulan II karena ada repatriasi dana atas pembayaran dividen atas Penanaman Modal Asing (PMA) di dalam negeri, sehingga komponen pendapatan primer akan mencatat defisit yang dalam.

Kendati demikian, defisitnya pendapatan primer diperkirakan tak akan bikin defisit transaksi berjalan melebihi 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal II mendatang.
"Kami yakin arus modal akan terus masuk dan masuk, sehingga neraca pembayaran di triwulan I dan II akan mencatat surplus," pungkas dia.

(glh/agt)