Penjualan Mobil Astra Kuartal I Turun Gara-gara Pemilu

CNN Indonesia | Jumat, 26/04/2019 10:49 WIB
Penjualan Mobil  Astra Kuartal I Turun Gara-gara Pemilu Ilustrasi. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Astra International Tbk (ASII) mengakui pemilihan umum (pemilu) pada April 2019 berdampak pada tergerusnya penjualan otomotif, khususnya mobil pada sepanjang kuartal I tahun ini.

Direktur Astra International Johannes Loman menuturkan masyarakat khususnya bersikap menunggu (wait and see) untuk membelanjakan dananya terhadap sejumlah barang yang relatif mahal. Akibatnya, penjualan mobil perusahaan turut terdampak turun lima persen menjadi 134 ribu unit.

"Faktor pertama memang wait and see, harapannya setelah pemilu pasar pulih," ucap Johannes, Kamis (25/4).


Penurunan ini, sebenarnya tercatat lebih baik dibandingkan dengan industri yang penjualannya menurun sampai 13 persen menjadi 254 ribu unit dalam tiga bulan pertama tahun ini. Namun, tetap saja laba bersih di sektor otomotif turun.


Kenaikan penjualan motor sebesar 19 persen menjadi 1,3 juta unit tak mampu mengerek laba bersih sektor otomotif Astra International. Tercatat, lini usaha ini hanya menyumbang laba bersih sebesar Rp1,9 triliun kepada induk, turun 10 persen dari sebelumnya Rp2,1 triliun.

Tahun ini, ia optimistis penjualan motor dan mobil masih positif. Apalagi, pada momen Lebaran biasanya terjadi peningkatan pembelian membeli kendaraan baru.

"Kami siapkan stok menjelang Lebaran, penjualan bisa naik 20 persen," terang Johannes.

Ia menargetkan setidaknya penjualan mobil dan motor tahun ini sama seperti realisasi tahun lalu. Untuk mobil ditargetkan sebanyak 1.150 unit dan motor 6,3 juta unit.
[Gambas:Video CNN]
Bisnis otomotif umumnya selalu menjadi penopang utama kinerja Astra International. Secara keseluruhan, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp5,21 triliun pada kuartal I 2019, naik 5 persen dari periode yang sama 2018 lalu sebesar Rp4,98 triliun.

Sektor dengan laba bersih tertinggi kedua diraih oleh alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi sebesar Rp1,82 triliun. Diikuti dengan jasa keuangan sebesar Rp1,4 triliun, agribisnis Rp30 miliar, teknologi informasi Rp20 miliar, infrastruktur dan logistik Rp16 miliar, dan properti Rp15 miliar.

Belanja Modal

Perusahaan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp30 triliun pada 2019. Angka itu bisa saja bertambah jika manajemen menemukan rencana investasi baru di tengah tahun.


Direktur Utama Astra International Prijono Sugiarto mengatakan jumlah itu terdiri dari belanja modal anak usahanya. Beberapa contohnya, PT Astra Agro Lestari Tbk sebesar Rp1,7 triliun, PT United Tractors Tbk Rp14 triliun, dan sektor otomotif Rp2,5 triliun.

"Lalu pembangunan outlet kami juga harus siapkan, ekspansi jalan tol, sisanya belanja modal untuk teknologi informasi," terang Prijono.

Ia mengklaim anggaran belanja modal ini merupakan jumlah rata-rata yang memang dikeluarkan perusahaan tiap tahunnya tanpa rencana ekspansi khusus. Mengacu pada 2017 lalu, perusahaan hanya mengalokasikan Rp23 triliun tapi naik menjadi Rp40 triliun pada akhir tahun.

"Perkiraan 2019 kalau ada suatu bidang ingin dimasuki dan menggiurkan kami akan usaha tambah belanja modal dan investasi," pungkas Prijono. (aud/agi)