"Tentu jangan mogok kerja lah," ucap Budi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (27/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi mengimbau agar pemegang saham dan manajemen perusahaan menjaga tata kelola perusahaan (good corporate governance/gcg). Hal ini agar Garuda Indonesia tetap memiliki kredibilitas sebagai perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ilustrasi. (REUTERS/Darren Whiteside) |
Sebelumnya, beredar surat yang menyatakan bahwa karyawan akan mogok menyikapi salah satu pernyataan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Hotel Pullman pada Rabu (24/4).
Awalnya, Presiden APG Bintang Hardiono mengklaim surat yang tersebar ke media massa itu hoaks. Namun, setelah dihubungi kembali ia mengakui bahwa surat itu benar tapi baru berupa draft.
"Baru rencana tetapi sudah bocor ke mana-mana. Jadi bukan untuk wacana publik atau bukan siaran pers," kata Bintang.
Polemik antara pemegang saham dengan manajemen ini tercium sejak perusahaan merilis laporan keuangan perusahaan 2018. Dalam buku itu, dua komisaris bernama Chairal Tanjung dan Dony Oskaria tidak membubuhkan tanda tangannya seperti komisaris lain.
Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia Bersatu yang terdiri dari Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG). (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta) |
Sebab, manajamen sudah lebih dulu mengakui pendapatan sebesar US$239,94 juta dari kerja sama dengan Mahata. Padahal, perusahaan belum menerima secara langsung dari Mahata hingga akhir 2018.
Hal itu membuat kinerja Garuda Indonesia yang beberapa waktu terakhir rugi menjadi laba. Rinciannya, pada 2017 tercatat rugi US$216,58 juta dan 2018 membukukan laba sebesar US$809,84 ribu.
[Gambas:Video CNN] (aud/ain)
Ilustrasi. (
Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia Bersatu yang terdiri dari Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG). (