Penurunan juga terjadi pada harga Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 7,29 persen dari Rp5.530 per kg menjadi Rp5.127 per kg.
"Saat ini masih musim panen raya sehingga harga gabah jatuh," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Kamis (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BPS Minta Pemerintah Waspadai Inflasi Mei |
Seiring penurunan harga gabah kering, harga seluruh jenis beras di tingkat penggilingan juga merosot. Harga beras kualitas rendah tercatat turun 3,01 persen secara bulanan menjadi Rp8.936 per kg. Berikutnya, beras kualitas medium turun 4,3 persen menjadi Rp9.144 per kg, dan beras jenis premium turun 3,56 persen menjadi Rp9.465 per kg.
"Penyebab utama penurunan NTP karena indeks harga yang diterima petani menurun," ujarnya.
Di sisi lain, rendahnya harga beras di tingkat konsumen menguntungkan konsumen. Pasalnya, harga beras di tingkat konsumen baik grosir dan eceran turun yaitu masing-masing sebesar minus 0,87 persen dan minus 1,34 persen. Tak ayal, harga beras bulan lalu tercatat deflasi minus 0,06 persen sedikit menahan laju inflasi yang mencapai 0,44 persen.
Melihat hal itu, Suhariyanto menilai perlu ada kebijakan untuk menyeimbangkan harga beras di tingkat produsen dan konsumen untuk menjaga daya beli petani. Terlebih, di beberapa daerah, lanjut Suhariyanto, harga gabah jatuh di bawah Harga Pokok Pembelian (HPP) beras yang diserap oleh Badan Urusan Logistik (Bulog), yaitu sampai Rp3.000 per kg.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)