Kepala BPS Suhariyanto mengatakan hampir seluruh komponen konsumsi bertumbuh dibanding tahun sebelumnya. Konsumsi masyarakat di kesehatan dan pendidikan tumbuh 5,66 persen atau lebih baik dibanding tahun sebelumnya 5,49 persen.
Kemudian, pertumbuhan konsumsi di makanan minuman juga naik dari 51,4 persen tahun kemarin menjadi 5,29 persen di tahun ini
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, BPS juga mencatat pertumbuhan beberapa komponen konsumsi yang melemah. Pertama, konsumsi masyarakat untuk transportasi dan komunikasi hanya 4,91 persen di tahun ini atau melambat dibanding tahun sebelumnya 4,96 persen. Kemudian, konsumsi restoran dan hotel juga melambat dari 5,64 persen di tahun lalu menjadi 5,42 persen di tahun ini.
BPS mencatat total penumpang pesawat domestik Januari hingga Maret tahun ini di angka 18,32 juta orang, atau turun 17,66 persen dari tahun sebelumnya 22,25 juta orang.
"Dan kami juga mencatat tingkat hunian kamar juga turun, sehingga tiket pesawat yang mahal berkontribusi ke penurunan konsumsi tersebut," imbuh dia.
Ia meyakini, pertumbuhan konsumsi di kuartal II akan lebih baik seiring memasuki masa ramadan dan idul fitri. Namun, ia meminta pemerintah untuk fokus ke harga tiket pesawat terbang karena dampaknya ke konsumsi akan sangat signifikan di tengah masa-masa mudik.
"Secara tren, bulan puasa dan Idul Fitri akan menaikkan konsumsi, jadi kami masih meyakini kuartal ini pertumbuhan konsumsinya akan jauh lebih baik," tutur Suhariyanto.
BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen, di mana konsumsi masih menjadi penyumbang terbesar yakni 56,82 persen. Kemudian, BPS juga mencatat pertumbuhan konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 16,93 persen karena aktivitas kampanye pemilihan presiden, wakil presiden, dan legislatif menjelang pemilu 17 April 2019 kemarin. (glh/agi)