Investasi menjadi fokus karena komponen tersebut cepat dalam mendongkrak pertumbuhan ketimbang ekspor.
Bambang menjelaskan target pertumbuhan ekonomi sejatinya bisa dikejar oleh dua komponen utama, yaitu investasi dan ekspor. Sayangnya, realisasi investasi yang telah dikantongi Indonesia dari berbagai pihak justru melambat pada periode Januari-Maret 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa terjadi karena Pemilu, ada wait and see, atau masih ada kekhawatiran," ucap Bambang di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (6/5).
"Kami masih kesulitan, sehingga masih bergantung kepada ekspor yang tradisional," ujarnya.
Padahal, di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa sektor industri dan komoditas yang memegang peranan penting dalam perdagangan ekspor justru tengah tertekan. Misalnya, minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO). Sementara sektor industri dan komoditas ekspor baru tidak bisa dikembangkan semudah membalikkan telapak tangan.
[Gambas:Video CNN]
Dari kedua hal ini, menurut Bambang, langkah cepat yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengejar kembali target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini adalah mencairkan komitmen investasi yang sudah didapatkan. Bahkan, menurutnya, bila komitmen tersebut bisa segera direalisasikan, maka pemerintah tidak perlu terlalu kerja keras mencari investasi baru.
"Yang bisa cepat adalah investasi, jadi semua komitmen investasi harus segera direalisasikan. Yang penting, yang selama ini masih menahan, segera dibawa masuk, itu saja. Dimudahkan izinnya, itu yang lebih penting," jelasnya.
Sementara ekspor tetap harus didorong meski memerlukan waktu yang tidak singkat. "Karena ekspor kan bergantung pada kondisi global dan hal yang selama ini terlalu bergantung pada komoditas," pungkasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,07 persen pada kuartal I 2019. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dari kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen, namun lebih rendah dari kuartal IV 2018 sebesar 5,18 persen.
Pertumbuhan ekonomi periode Januari-Maret 2019 ditopang oleh indikator konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01 persen, investasi 5,03 persen, ekspor minus 2,08 persen, konsumsi pemerintah 5,21 persen, konsumsi LNPRT 16,93 persen, dan impor minus 7,75 persen.
(uli/agt)
Sementara ekspor tetap harus didorong meski memerlukan waktu yang tidak singkat. "Karena ekspor kan bergantung pada kondisi global dan hal yang selama ini terlalu bergantung pada komoditas," pungkasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,07 persen pada kuartal I 2019. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dari kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen, namun lebih rendah dari kuartal IV 2018 sebesar 5,18 persen.
Pertumbuhan ekonomi periode Januari-Maret 2019 ditopang oleh indikator konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01 persen, investasi 5,03 persen, ekspor minus 2,08 persen, konsumsi pemerintah 5,21 persen, konsumsi LNPRT 16,93 persen, dan impor minus 7,75 persen.