Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan setiap tahun perusahaan mengantongi pendapatan dari penjualan tiket rata-rata Rp50 triliun, di mana per bulannya berkisar Rp4 triliun-Rp5 triliun. Artinya, potensi penjualan tiket saat Ramadan hanya sekitar Rp3,6 triliun-Rp4,5 triliun.
Ia berujar mayoritas masyarakat umumnya memilih banyak beribadah di rumah bersama keluarga pada pekan pertama Ramadan, sehingga tak banyak yang bepergian atau berlibur. Lalu, pekan kedua diisi oleh berbagai acara buka bersama dengan kerabat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepadatan penerbangan baru akan terjadi pada pekan ketiga Ramadan. Sejumlah masyarakat sudah mulai pergi ke kampung halamannya masing-masing untuk merayakan hari raya bersama keluarga.
"One way sekali jalan saja, misalnya Jakarta ke Yogyakarta penuh, tapi Yogyakarta ke Jakarta kosong. Jadi pasti kan banyakan hari biasa," ujar Pikri.
Maka itu, pihaknya berhati-hati dalam menambahkan jatah kursi pesawat setiap momen mudik. Tahun ini, Garuda Indonesia memutuskan menambah kursi sebanyak 50 ribu.
"Angkanya masih naik dibandingkan 2018 45 ribu kursi tambahannya. Ini karena pemerintah target jumlah pemudik juga bertambah," terangnya.
Penambahan kursi itu khususnya diberikan untuk rute tujuan mudik, seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, dan Padang. Pikri memprediksi Padang menjadi tujuan paling banyak tahun ini.
"Karena ke Yogyakarta lalu Semarang dengan adanya tol itu tidak banyak lagi (jumlah penumpang) dibandingkan dengan sebelumnya," pungkas Pikri. (aud/agi)