Surplus neraca pembayaran ini berbanding terbalik dibanding periode yang sama tahun lalu yang mengalami defisit US$3,8 miliar. Namun, lebih buruk ketimbang kuartal IV 2018 yang mencatat surplus US$5,4 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menjelaskan surplus neraca pembayaran ditopang oleh transaksi modal dan finansial sebesar US$10,1 miliar pada kuartal I 2019. Surplus tersebut meningkat drastis dari kuartal I 2018 sebesar US$1,9 miliar, tetapi lebih rendah kuartal IV 2018 US$15,7 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek perekonomian domestik," ujar Onny di Jakarta, Jumat (10/5)
Defisit tersebut melebar dibanding kuartal I 2018 sebesar US$5,5 miliar atau 2,1 persen dari PDB. Namun bila dibandingkan kuartal IV 2018, defisit transaksi berjalan menurun dari sebelumnya US$9,2 miliar atau 3,6 persen dari PDB.
Onny menjelaskan surplus neraca perdagangan barang sebenarnya mengalami peningkatan. Namun, defisit neraca jasa meningkat.
"Ada penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor," jelas dia.
Sementara, peningkatan defisit jasa terutama disebabkan penurunan surplus jasa perjalanan (travel). Hal ini dipengaruhi penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara karena faktor musiman.
"Juga ada impor jasa pengangkutan barang (freight) yang menurun," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/agi)