Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan pemindahan ibu kota membuka ruang perkembangan kota DKI Jakarta semakin terbuka. Misalnya, kawasan pemerintahan yang umumnya berada di titik strategis saat ini bisa dialihkan menjadi gedung-gedung perkantoran.
Hal tersebut, sambung dia, akan membuat sektor bisnis, perdagangan, dan jasa, tumbuh dengan pesat. Selain itu, DKI Jakarta bisa seminimal mungkin mendapatkan gangguan dari hal-hal yang berkaitan dengan pusat pemerintahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, Jakarta perlu menjadi pusat bisnis yang bisa menyaingi ketiga kota bisnis di negara tetangga agar bisa menunjang target menjadi negara ekonomi terbesar kelima di dunia pada 2045. "Maka, kota bisnisnya harus punya kapasitas ekonomi yang lebih besar dan berskala internasional," imbuh dia.
Sedangkan 80 persen lainnya disumbang oleh sektor swasta. Sementara, bila dihitung dari kontribusi masyarakat yang bekerja di Jakarta, jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di Jakarta dan mungkin dipindahkan ke ibu kota baru kurang dari 1 juta orang.
[Gambas:Video CNN]
"Penduduk Jakarta sendiri ada 10,3 juta jiwa dan dengan penduduk Jabodetabek hampir 25 juta orang. Jadi, kehadiran orang-orang itu akan membuat pertumbuhan ekonomi Jakarta tetap tinggi," katanya.
Di sisi lain, Bambang menilai dampak perekonomian yang bisa didapat Indonesia nanti bisa saja lebih besar karena calon ibu kota baru juga akan mendapat peningkatan perekonomian. Begitu juga dengan kota-kota di sekitarnya, Pulau Kalimantan, hingga ekonomi nasional.
"Secara nasional, kalaupun tidak banyak ke pertumbuhan, tapi ada pemerataan. Apalagi nanti akan ada banyak pusat pertumbuhan ekonomi baru, seperti enam kota metropolitan baru, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, pariwisata, dan lainnya," tandas dia. (uli/bir)