Di tengah pelemahan tersebut, hari ini sebagian besar mata uang utama Asia justru menguat terhadap dolar AS, seperti, dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen, peso Filipina menguat 0,02 persen, baht Thailand menguat 0,04 persen, dolar Singapura menguat 0,09 persen, dan won Korea Selatan yang menguat 0,15 persen.
Meskipun demikian, ada juga mata uang yang senasib dengan rupiah, seperti, yen Jepang yang terkulai sebesar 0,14 persen dan ringgit Malaysia sebesar 0,12 persen.
Di sisi lain, mata uang negara maju menguat terhadap dolar AS, seperti euro sebesar 0,12 persen, dolar Australia sebesar 0,19 persen, dan poundsterling Inggris sebesar 0,03 persen.
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah diprediksi masih berlanjut pada hari ini karena sentimen eksternal dan domestik yang cukup kuat.
Dari luar negeri, sentimen perang dagang antara AS dan China masih akan berlanjut. Pada Minggu (12/5), negosiasi antara keduanya tidak menghasilkan kesepakatan apapun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu saja, kondisi ini dikhawatirkan pelaku pasar karena perang dagang kedua negara bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global. "Tapi rencananya dua negara kemungkinan akan bertemu pada pertemuan G-20 di Jepang akhir bulan depan," jelas Ibrahim, Senin (14/5).
Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan dengan sentimen tersebut rupiah kemungkinan besar akan melanjutkan pelemahannya ke area support Rp14.500- Rp14.550 dan support di area Rp14.400 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (glh/agt)