Pagi hari ini, mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, seperti won Korea Selatan sebesar 0,09 persen, dolar Singapura sebesar 0,06 persen, baht Thailand sebesar 0,06 persen, peso Fiipina sebesar 0,06 persen, dan ringgit Malaysia sebesar 0,03 persen.
Hanya yen Jepang saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,02 persen. Dolar Hong Kong, di sisi lain, tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah pagi ini dipengaruhi antisipasi pasar akan neraca perdagangan Indonesia, yang rencananya diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 11.00 WIB nanti.
Dengan neraca dagang masih defisit, maka hal itu akan berpengaruh ke defisit transaksi berjalan yang kian terjun bebas. Dengan transaksi berjalan yang kian mencatat defisit, pelaku pasar khawatir bahwa Indonesia tidak punya cadangan devisa yang cukup untuk menstabilkan nilai tukar.
Namun, ekspektasi pasar ini bisa saja berubah jika neraca perdagangan April mencatat surplus. "Sebagai informasi, defisit transaksi berjalan kuartal I sudah 2,6 persen dari PDB, sudah jauh lebih lebar dari kuartal I tahun lalu," kata Ibrahim, Rabu (15/5).
Tak hanya antisipasi neraca dagang, lagi-lagi perang dagang AS dan China akan menjadi sentimen rupiah hari ini. Sentimen ini mempengaruhi rupiah sejak awal Mei lalu.
"Sehingga untuk hari ini, rupiah akan ditransaksikan di level Rp14.420 hingga Rp14.460 per dolar AS," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)