Utang Luar Negeri RI Kuartal I 2019 Tembus Rp5.520 Triliun

tim, CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 15:16 WIB
Utang Luar Negeri RI Kuartal I 2019 Tembus Rp5.520 Triliun Ilustrasi utang luar negeri. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar US$387,6 miliar atau sekitar Rp5.520 triliun. Utang tersebut tumbuh 7,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, lebih tinggi pertumbuhannya dari kuartal sebelumnya.

Peningkatan pertumbuhan utang luar negeri terutama disebabkan oleh transaksi penarikan neto utang luar negeri dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sementara berdasarkan sumbernya, peningkatan utang terutama berasal dari kenaikan utang luar negeri swasta.

Menurut data BI, pertumbuhan utang luar negeri pemerintah relatif stabil pada kuartal I 2019. Hingga akhir kuartal I 2019, utang luar negeri pemerintah tercatat US$187,7 miliar atau tumbuh 3,6 persen secara tahunan, relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 3,3 persen.



Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penurunan outstanding SBN dalam valuta asing. Hal ini sejalan dengan pelunasan global bonds yang jatuh tempo pada Maret 2019.

BI mencatat pengelolaan utang luar negeri pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,8 persen dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,3 persen), sektor jasa pendidikan (15,7 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,4 persen).

Sementara posisi utang luar negeri swasta pada akhir kuartal I 2019 tumbuh 12,8 persen, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 11,3 persen. ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.


Pangsa utang luar negeri di keempat sektor tersebut terhadap total utang luar negeri swasta mencapai 75,2 persen.

BI juga menyebut struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin, antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I 2019 yang relatif stabil sebesar 36,9 persen.

Selain itu, struktur utang luar negeri Indonesia juga tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 86,1 persen dari total utang luar negeri. Dengan perkembangan tersebut, menurut BI, utang luar negeri masih terkendali dengan struktur yang sehat meskipun ULN Indonesia mengalami peningkatan.

[Gambas:Video CNN] (agi/agi)