LPS: Modal Asing yang 'Minggat' dari RI Hanya Sementara

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 07:13 WIB
LPS: Modal Asing yang 'Minggat' dari RI Hanya Sementara Ilustrasi dolar AS. (cnnindonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan keluarnya aliran modal asing dari Indonesia atau dikenal dengan istilah capital outflow dalam beberapa waktu terakhir ini hanya bersifat sementara. Aliran modal asing diperkirakan akan kembali lagi masuk ke Indonesia. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) periode 13-16 Mei 2019, jumlah aliran modal asing yang keluar dari Tanah Air mencapai Rp11,3 triliun. Dana tersebut keluar dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham.

Ketua LPS Halim Alamsyah mengatakan capital outflow yang terjadi sejatinya hanya memberi sedikit gejolak di pasar modal dan pasar uang. Hal ini terjadi karena investor mengubah perhitungan atas berbagai sentimen ekonomi global yang terjadi belakangan ini.  Salah satunya akibat ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dengan China.


"Inflow outflow selalu terjadi, sekarang mereka ambil dana dan simpan ke safety currency, seperti dolar AS, euro Eropa, dan yen Jepang, tapi begitu kondisi membaik, mereka akan balik lagi (ke Indonesia)," ungkap Halim kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/5).


Meski begitu, Halim meyakini gejolak aliran modal asing yang keluar masuk Indonesia tidak serta merta mempengaruhi prospek ekonomi Tanah Air ke depan. Toh, beberapa indikator ekonomi makro masih cukup stabil, misalnya pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dan inflasi di bawah 3,5 persen.

"Ini murni sentimen pasar saja, coba lihat rating Indonesia, itu masih bagus dan itu yang dilihat mereka (investor)," ucapnya.

Lebih lanjut ia melihat keluar masuk aliran modal asing juga tidak memberi kekhawatiran bagi kondisi likuiditas di sejumlah lembaga keuangan nasional. Sebab, menurutnya, kondisi likuiditas secara fundamental masih mencukupi. Misalnya di industri perbankan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih sekitar 23,97 persen pada April 2019.


"Secara sistem, likuiditas cukup, tetapi pembagiannya tidak merata. Ada individual bank yang relatif besar likuiditasnya, tapi ada yang minim, makanya mereka mulai hati-hati dan mengerem penyaluran kreditnya," terangnya.

Kendati begitu, Halim melihat kondisi likuiditas lembaga keuangan masih mencukupi. Apalagi, Bank Indonesia (BI) masih menahan tingkat suku bunga acuan sebesar 6 persen. Hal ini membuat tingkat bunga deposito atau simpanan bank belum berubah dan bank bisa mendapatkan sumber dana dari bunga yang cukup menarik tersebut.

"Secara sistem perbankan aman, kalau ada masalah memang banknya ada masalah. Kalau dia sudah punya masalah, dengan sendirinya ya dia harus hati-hati," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/agi)


BACA JUGA