Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa tiga perempat responden yang disurvei mengatakan perang dagang telah memberikan dampak negatif pada mereka. Pasalnya, perang dagang membuat biaya dan harga barang naik.
Di satu sisi, perang dagang telah membuat pesanan barang kepada mereka mengering. Atas dampak itulah, sekitar 40 persen pengusaha AS yang disurvei mengatakan mempertimbangkan atau telah merelokasi usaha dan fasilitas produksi mereka ke luar dari China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka tetap berkeinginan untuk berproduksi di China dan menjadikan pasar di Negeri Tirai Bambu sebagai target. Sementara itu, kurang dari enam persen perusahaan yang disurvei menyatakan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan pabrik mereka ke AS.
Kondisi tersebut dipicu oleh Langkah AS menaikkan tarif impor barang bernilai US$200 miliar dari China. Selain kenaikan tersebut, Trump juga masih berencana untuk memberlakukan tarif impor sebesar 25 persen atas barang impor senilai US$325 miliar asal China.
Trump menyatakan pengenaan tarif tersebut dilakukan karena pihaknya melihat China tidak memiliki itikad baik dalam menyelesaikan ketegangan dagang dengan negaranya.
Kebijakan tersebut langsung direspons China. Mereka menyatakan akan membalas serangan dagang yang dikobarkan oleh AS terhadap mereka. Balasan akan mereka lakukan dengan menaikkan tarif impor barang asal AS bernilai US$60 miliar. Kementerian Keuangan China menyatakan tarif akan mulai diberlakukan 1 Juni nanti.
[Gambas:Video CNN]
(afp/agt)