ANALISIS

Berharap Rusuh Tanah Abang Tak Berdampak pada Perekonomian

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 11:27 WIB
Berharap Rusuh Tanah Abang Tak Berdampak pada Perekonomian Ilustrasi penutupan Pasar Tanah Abang. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Unjuk rasa memprotes hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang digelar pada 21 dan 22 Mei kemarin berakhir ricuh. Karena kondisi tersebut, kegiatan ekonomi dan bisnis di Jakarta terganggu.

Gangguan paling nyata terjadi di Pasar Tanah Abang. Akibat kerusuhan tersebut, pasar grosir terbesar di Asia Tenggara tersebut harus tutup. 
Secara ekonomi, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan kerusuhan yang terjadi kemarin telah menimbulkan kerugian besar.

Maklum, kerusuhan terjadi tepat di pusat ibu kota. Ia memang
 belum melakukan kajian perhitungan terhadap kerugian secara terperinci.


Namun, ia memperkirakan total kerugian akibat lumpuhnya aktivitas ekonomi di sebagian Jakarta itu bisa mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Perkiraan dibuat dengan memperhitungkan data Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI, total PDRB Bruto atas dasar harga berlaku sepanjang tahun lalu mencapai Rp2.599,17 triliun.


Dengan asumsi setahun terdiri dari 365 hari, rata-rata PDRB DKI Jakarta bisa mencapai Rp7 triliun per hari. Dengan asumsi aksi demonstrasi mengganggu 10 hingga 15 persen dari kegiatan ekonomi, potensi pendapatan ibu kota yang hilang akan berkisar Rp700 miliar hingga Rp1 triliun.

"Ada kerugian-kerugian yang cukup besar akibat terhentinya aktivitas ekonomi. Tidak berlebihan jika diperkirakan kerugian mencapai triliunan, " ujar Yose kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/5).

Perkiraan Yose bisa jadi benar. Di Pasar Tanah Abang saja, total kerugian dari pendapatan yang hilang diperkirakan mencapai Rp200 miliar karena ditutup selama sehari akibat kerusuhan 22 Mei kemarin. 

Besaran kerugian disampaikan Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin dengan melihat jumlah rata-rata perputaran uang secara virtual di salah satu pasar terbesar di Asia tersebut.


"Dari tidak beroperasinya Tanah Abang saja sudah ada kerugian dari potensi pendapatan yang hilang," ujarnya.

Belum lagi kerugian dari berhentinya aktivitas perdagangan dan bisnis di kawasan Jalan MH Thamrin. Di kawasan ini, sejumlah pusat perbelanjaan besar berdiri mulai dari Mal Grand Indonesia, Plaza Indonesia, hingga Sarinah.

Sejumlah hotel dan restoran yang beroperasi di kawasan tersebut juga terpaksa tutup. 
"Aktivitas pengiriman barang juga terhenti karena sejumlah jalan ditutup," ujarnya.

Selain itu, keluarnya aliran modal juga perlu diperhitungkan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor domestik di pasar saham pada perdagangan Rabu (22/5) mencatatkan jual bersih sekitar Rp703 miliar.


Sementara, investor masih mencatatkan beli bersih sekitar Rp702,02 miliar. 
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aliran modal asing yang keluar dari Indonesia (capital outflow) pada sepanjang bulan ini hingga 17 Mei 2019 mencapai Rp13,73 triliun.

Aliran modal asing tersebut keluar melalui pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

"Harga saham juga anjlok beberapa hari ini dari ketidakpastian yang tinggi," ujarnya.

Tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (22/5) ditutup melemah 0,19 persen di level 5.939. Pelemahan juga dialami oleh nilai tukar rupiah yang sempat tertekan ke level Rp14.538 per dolar AS.


Tak hanya itu, produktivitas pekerja baik pegawai swasta maupun pemerintah yang kantornya terpaksa diliburkan juga terganggu. Kemudian, pemerintah juga perlu mengganti jika ada kerusakan pada fasilitas umum.

Padahal, uang tersebut seharusnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih produktif. 
Menurut Yose, demontrasi yang terjadi tahun ini merupakan kejadian luar biasa mengingat pada penyelenggaraan Pemilu selama 20 tahun terakhir hasilnya bisa diterima dengan baik, tanpa disertai aksi penolakan yang diwarnai kerusuhan.

"Pada (Pemilu) 2014, walaupun ada sedikit kekacauan atau peningkatan ketidakpastian tetapi tidak sampai ada ledakan," ujarnya.

Pemerintah, lanjut Yose, tidak boleh membiarkan aksi demo usai penetapan hasil Pemilu berlarut-larut karena akan mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas di Indonesia ke depan.

[Gambas:Video CNN]

"Biasanya memang ada antisipasi pasar di mana investasi, terutama investasi portofolio di pasar keuangan, itu melemah mendekati Pemilu tetapi, biasanya, setelah Pemilu berjalan itu akan terjadi peningkatan," jelasnya.

Senada dengan Yose, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto juga mengkhawatirkan dampak demonstrasi terhadap perekonomian, terutama terhadap investasi.

"Kerugian yang paling besar adalah persepsi investor terhadap kondisi stabilitas keamanan dan politik di Indonesia," ujarnya.

Menurut Eko, sebaiknya kedua kubu calon presiden segera bertemu dan melakukan konsolidasi demi mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, jika tak segera dilakukan, investor berpotensi menahan diri untuk masuk ataupun melakukan ekspansi setidaknya sampai pemimpin baru dilantik pada Oktober 2019 mendatang.


"Jika tidak ada demo, investor kemungkinan bisa lebih cepat untuk mengeksekusi rencana investasi mereka. Tetapi, dengan situasi belum pasti sampai benar-benar dilantik, pasti ada pertimbangan lain terkait aspek keamanan meskipun secara keseluruhan masih terkendali," ujarnya.

Saat ini, sejumlah negara sedang berbenah untuk meningkatkan investasinya. Situasi Indonesia yang tidak kondusif akan membuat calon investor memilih untuk menanamkan investasinya di negara lain.

"Ketidakpastian atau demo terus menerus bisa membuat investor yang sudah ada di sini berpikir ulang untuk melakukan ekspansinya," ujarnya.

Eko mengingatkan Pemilu sudah usai. Seharusnya, pihak-pihak yang berkompetisi bisa menerima hasilnya. Apabila masih ada keberatan bisa disampaikan melalui jalur hukum.

"Negara lain berbenah, kalau mereka merayu calon-calon investor ke negara mereka Indonesia akan kehilangnya investasi yang berpotensi. 


Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani tetap optimistis imbas aksi ricuh di ibu kota tidak akan berdampak besar pada perekonomian secara keseluruhan. Pasalnya, investor masih melihat proses demokrasi di Indonesia dilaksanakan secara adil dan transparan.

Investor juga meyakini fundamental ekonomi di Indonesia masih kuat.

"Saya yakin kerusuhan bisa segera diatasi aparat kepolisian kan sudah mendeteksi," ujarnya. 

Hariyadi mengingatkan potensi pendapatan yang hilang di pusat perbelanjaan kemungkinan besar akan segera terganti karena konsumen pada dasarnya hanya menunda pembelian. Begitu situasi kondusif, konsumen akan kembali untuk berbelanja terlebih saat ini menjelang lebaran.


"Sepanjang pasarnya tidak terbakar, orang yang tadinya ingin beli jadi menunda tetapi ia masih bisa beli besok setelah keadaannya tenang," ujarnya.

Kendati demikian, sektor perhotelan dan restoran terpaksa harus gigit jari karena kehilangan momentum kedatangan pengunjung. Besaran kerugian yang diderita masih dihitung namun Hariyadi memperkirakan nilainya tidak signifikan terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Hariyadi berharap kehidupan demokrasi di Indonesia bisa berjalan sehat untuk mendukung perekonomian. Karenanya, negara harus mampu bersikap tegas kepada oknum-oknum yang dengan sengaja menimbulkan kerusuhan karena tidak menerima hasil dari pesta demokrasi.

"Menjadi pertanyaan besar ketika ada pihak yang menuding 'curang, curang, curang' tetapi tidak mengatakan curangnya yang mana. Kita jadi tidak jelas juga melihatnya," ujarnya.

(agt)