Kadin Sebut Pemilu Serentak Tak Dongkrak Belanja

CNN Indonesia | Sabtu, 25/05/2019 21:50 WIB
Kadin Sebut Pemilu Serentak Tak Dongkrak Belanja Waketum Kadin Suryani Sidik Motik mengatakan Pemilu 2019 tak berdampak signifikan pada penjualan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengklaim Pemilu 2019 tak berdampak signifikan pada perputaran uang di kalangan pengusaha.

Padahal, pelaku usaha berharap kinerja penjualan naik kencang karena tahun ini pertama kalinya pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) digelar serentak.

Wakil Ketua Umum Kadin Suryani Sidik Motik mengatakan jumlah pembelian barang tak meningkat signifikan seperti prediksi sebelumnya. Dengan demikian, hasil penjualan yang dikantongi jelang pemilu kemarin tak berkontribusi banyak terhadap kinerja keseluruhan masing-masing industri.


"Biasanya berharap pemilu ada uang digelontorkan, tapi ini tidak ada belanja. Pemilu gabungan kemarin teman-teman kurang merasakan," papar Suryani, Sabtu (25/5).

Bila dibandingkan dengan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang dilaksanakan pada 2018, Suryani menyatakan pelaku usaha mengaku masih merasakan dampaknya. Hal yang kali ini dirasakan adalah berkurangnya pembelian kaus, lambang, dan berbagai atribut kampanye lainnya.

"Saya tidak tahu digelontorkan ke mana tapi tak terasa dibandingkan pilkada sebelumnya," kata dia.

Di samping itu, Suryani berpendapat tak menutup kemungkinan perputaran ekonomi pada Lebaran tahun ini juga lebih rendah dari 2018. Masalahnya, penjualan ritel pada Lebaran tahun lalu juga disebut lebih rendah ketimbang 2017.

"Terutama barang konsumsi kayak PT Unilever Indonesia Tbk. Tahun lalu produksi turun 5 persen di Lebaran. Kalau tahun lalu saja jelek, tahun ini lebih jelek berarti ada pelemahan lagi," kata Suryani.

Terganggu Aksi Massa

Penjualan di momen Ramadan dan Lebaran ini juga terganggu oleh aksi massa pada Selasa (21/5) dan Rabu (23/5) kemarin. Sejumlah pusat perbelanjaan terpaksa ditutup, sehingga berpotensi rugi hingga miliaran rupiah.

"Dua hari Tanah Abang tutup mungkin hilang atau merugi Rp500 miliar," imbuh Suryani.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya juga menyayangkan aktivitas industri yang terganggu akibat kerusuhan 22 Mei 2019. Beberapa pusat perbelanjaan dan ritel juga merugi karena penutupan sementara.

Airlangga mengatakan Pasar Tanah Abang yang ditutup menjadi contoh pusat perbelanjaan yang mendulang rugi karena terpaksa ditutup. Padahal, tempat itu menjadi salah satu tempat perputaran ekonomi, terutama di bulan Ramadan jelang Idul Fitri.

"Aktivitas perekonomian terganggu di Jakarta itu sudah pasti dan kami sangat menyayangkan itu," kata pria yang juga Ketua Umum Golkar tersebut.


[Gambas:Video CNN]

(aud/kid)