REKOMENDASI SAHAM

Strategi Dapat Cuan di Pasar Saham Jelang Libur Lebaran

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 08:03 WIB
Strategi Dapat Cuan di Pasar Saham Jelang Libur Lebaran Ilustrasi IHSG. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah analis meramalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal melanjutkan penguatannya dan bertahan di zona hijau menjelang lebaran ini. Mereka menyebut indeks masih punya potensi untuk bertahan di area 6.000.

Atas kondisi tersebut, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus meminta pelaku pasar tak menyia-nyiakan momentum ini untuk memborong saham. Aksi beli besar-besaran bisa dilakukan Senin (27/5) dan Selasa (28/5) ini.

Walaupun diprediksi menguat, tapi perdagangan IHSG pekan ini bisa diperkirakan tak begitu aktif. Maklum, aktivitas pasar akan terpengaruh libur Lebaran.


Kondisi tersebut praktis akan membuat waktu perdagangan terbatas karena hanya akan berlangsung empat hari. Pada momentum libur Lebaran p
elaku pasar juga biasanya banyak mengamankan dana mereka.


Dua sampai tiga hari sebelum hari raya, IHSG diramalkan akan melemah akibat aksi ambil untung yang dilakukan pasar jelang Lebaran. 

"Mungkin Senin dan Selasa akan menjadi hari yang cukup ramai, namun akan berkurang pada Rabu dan Jumat karena nuansa libur telah tiba," ungkap Nico kepada CNNIndonesia.com, Senin (26/5).

Ia mengatakan setelah memborong saham, pelaku pasar bisa mulai merealisasikan keuntungannya pada Rabu (29/5). Kalau ingin lebih cepat, pelaku pasar bisa melakukan aksi jual pada Selasa (28/5) demi menikmati hasil investasinya sebelum libur Lebaran.

"Ingat pencairan uang juga T+2," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Seperti diketahui, penyelesaian transaksi jual dan beli saham di pasar modal memakan waktu selama dua hari. Bila melakukan aksi jual pada Selasa (28/5), maka realisasi keuntungan baru didapat Jumat (31/5) karena perdagangan saham libur pada Kamis (30/5).

Amannya, pelaku pasar mengoleksi saham-saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap), misalnya PT Astra International Tbk (ASII), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

"Tampaknya semua saham akan manjur, tapi di tengah situasi dan kondisi saat ini semua saham big cap akan menghijau," tutur Nico.

Pergerakan saham yang masuk rekomendasi belum naik signifikan pada akhir pekan kemarin. Saham Astra International naik 1,06 persen ke level Rp7.175 per saham, Unilever Indonesia 0,99 persen ke level Rp43.525 per saham, Kalbe Farma 0,37 persen ke level Rp1.345 per saham, sedangkan Indofood CBP Sukses Makmur terkoreksi tipis 0,26 persen ke level Rp9.700 per saham.


Sementara, RTI Infokom mencatat sejak awal 2019 hingga perdagangan terakhir atau year to date (ytd) seluruh saham tersebut bergerak melemah. Rinciannya, saham Astra International secara year to date sudah turun 12,77 persen, Unilever Indonesia 4,13 persen, Kalbe Farma 11,51 persen, dan Indofood CBP Sukses Makmur 7,18 persen.

"Kalau ada yang pelaku pasar kemarin ketika mau beli bilang mahal, terus sekarang sudah didiskon masih tidak mau beli akan sangat sayang sekali," jelas Nico.

Sementara itu, Analis Pasardana Arief Budiman turut merekomendasikan saham Astra International untuk pekan ini. Alasannya, saham sektor otomotif itu belum bergerak naik signifikan ketika pekan lalu IHSG menguat cukup kencang.

"Harganya masih murah, kenaikan belum seberapa kalau dibandingkan dengan penurunan sejak awal tahun. Kalau dilihat secara year to date masih turun," papar Arief.


Namun, ia mengakui secara harian pergerakannya sudah cukup positif. Arief melihat ada potensi koreksi sedikit untuk Astra International pada awal pekan ini, sehingga pelaku pasar bisa membeli di harga murah (buy on weakness).

"Jadi bisa mencicil untuk membeli lagi untuk pelaku pasar. Prospek juga masih bagus ke depannya, dari bisnisnya sendiri Astra International pemain skala besar bisnis otomotif," jelas Arief.

Selain itu, pelaku pasar juga bisa melirik saham sektor properti, khususnya PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Menurut Arief, pergerakan saham tersebut masih tertinggal dengan saham lainnya di sektor properti.

"Jadi menarik, ada potensi kenaikan juga. Terlihat volume beli mulai naik, jadi ada tanda-tanda pelaku pasar akumulasi beli," terang dia.


Pada Jumat (24/5), saham Pakuwon Jati bergerak stagnan di level Rp645 per saham. Namun, bila dilihat satu pekan terakhir saham tersebut menguat 2,38 persen.

"Pekan ini ada ruang cukup baik untuk Pakuwon Jati kalau dilihat secara teknikal," ucapnya.

Arief menargetkan harga saham Astra International dan Pakuwon Jati naik lebih dari 5 persen sepanjang pekan ini. Untuk Astra International ditargetkan menguat 5,22 persen ke level Rp7.550 per saham dan Pakuwon Jati 6,2 persen ke level Rp685 per saham.
 
(agt)