Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi lantaran perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak kunjung usai. Bahkan, pemerintah China tengah menyusun daftar hitam bagi perusahaan AS sebagai respons atas ancaman kenaikan tarif bea masuk impor yang kembali diberikan oleh AS belum lama ini.
"Arah antara AS dan China tidak ada yang bisa tebak. Orang jadi pesimis bahkan," ungkapnya di rumah dinas yang terletak di Jalan Widya Chandra, Senayan, Jakarta, Rabu (5/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, perang dagang yang tak kunjung reda membuat prospek kinerja perdagangan dunia secara keseluruhan ikut-ikutan suram. Sebab, kedua negara merupakan mitra dagang utama bagi perdagangan kebanyakan negara di dunia, termasuk Indonesia.
"Kalau dia (AS dan China) saling begini terus (melangsungkan perang dagang), pasti saling melambat, setelah itu tujuan ekspor kita (Indonesia) jadi terpengaruh," terangnya.
Menurut Darmin, investasi akan menjadi tumpuan dan harus fokus ditingkatkan karena Indonesia tengah memiliki momentum pendorong investasi. Salah satunya, kenaikan peringkat daya saing Indonesia dari posisi 48 pada 2018 menjadi 32 pada 2019.
Kenaikan peringkat itu diberikan oleh International Institute for Management Development (IMD) belum lama ini. Dalam laporannya, Indonesia menjadi negara dengan peningkatan peringkat tertinggi di Asia Pasifik.
[Gambas:Video CNN]
"IMD Competitiveness membuat ada yang tetap mau investasi, banyak yang mau. Kita (Indonesia) attractiveness-nya lebih baik dan kebijakannya juga," katanya.
Meski begitu, Darmin belum bisa meramal lebih jauh seperti apa target peningkatan investasi yang sekiranya bisa dicapai oleh Indonesia. Namun, ia menekan peningkatan investasi akan membuat ekonomi tetap terjaga dengan target 5,3 persen pada akhir tahun. (uli/agi)