Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sejatinya penambahan utang tiap tahun terus melandai. Hingga Mei 2019, total utang yang ditarik pemerintah sepanjang tahun ini tercatat Rp159,6 triliun atau turun 10,58 persen dibanding tahun sebelumnya yakni Rp178,5 triliun.
"Kami catat pembiayaan hingga Mei kemarin malah mencatat kontraksi, tentu ini adalah hal positif," jelas Sri Mulyani, Jumat (21/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ini tak lepas dari postur anggaran, di mana pemerintah masih menargetkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tingkat 1,84 persen dari PDB di tahun ini atau lebih rendah dari tahun kemarin 1,79 persen.
Meski demikian, ia tak menyebut, mengapa penarikan utang pemerintah sepanjang tahun ini lebih kecil meski defisitnya melebar. "Kami tetap hati-hati dalam mengelola instrumen pembiayaan agar hasilnya positif bagi ekonomi," tutur dia.
Adapun berdasarkan data APBN Kita, rasio utang pemerintah tercatat sebesar 29,72 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Utang pemerintah saat ini masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp3.776,12 triliun atau 82,88 persen dari total utang pemerintah. Sementara sisanya dalam bentuk pinjaman sebesar Rp782,54 triliun.
Utang SBN tercatat meningkat 11 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp3.401,77 triliun, sedangkan utang pinjaman naik 1,91 persen dibanding tahun sebelumnya.
[Gambas:Video CNN] (glh/agi)