Wajah Sepak Bola RI dan Cemas Investor pada Saham Bali United

CNN Indonesia | Minggu, 23/06/2019 11:25 WIB
Wajah Sepak Bola RI dan Cemas Investor pada Saham Bali United Ilustrasi perdagangan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada pemandangan menarik di lantai main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (17/6) kemarin. Puluhan orang memegang balon tepuk yang biasa dipakai untuk menonton konser.

Bola kaki berwarna putih pun ditebar di seluruh sisi lantai main hall Bursa. Tak ketinggalan, hadir wajah-wajah yang familiar bagi pecinta sepak bola, seperti Irfan Bachdim hingga Stefano Cugurra alias Teco.

Hari itu, sejarah baru di dunia sepak bola maupun pasar modal Tanah Air dibuat. Bali United menjadi klub sepak bola pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara (ASEAN) yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek. Perusahaan dicatatkan atas nama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk dengan kode saham BOLA.


Saham berkode BOLA ini pun langsung melambung 69,14 persen ke level Rp296 per saham saat pembukaan perdagangan perdananya. Padahal, saat masa penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) harga saham ditetapkan di level Rp175 per saham.


Dani (29), salah satu investor ritel menilai wajar lompatan harga saham Bali United saat perdagangan perdana. Pasalnya, hampir setiap saham yang baru tercatat di Bursa Efek cenderung menguat dalam hitungan minggu hingga bulanan.

"Kalau saya melihat dari 2018 lalu saham-saham yang IPO itu rata-rata langsung naik saat perdagangan perdana," ucap Dani kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/6).

Namun, Dani mengaku bukan tipe orang yang bakal mengikuti euforia dengan memborong saham yang baru listing di BEI pada hari perdagangan perdananya. Ia justru berniat baru mau membeli saham Bali United dalam beberapa hari ke depan.

"Malas ikut fenomena seperti itu, ini kan emiten baru juga. Jenisnya juga baru karena sebelumnya tidak ada klub sepak bola IPO," tutur dia.


Hal ini jelas berbeda dengan perusahaan lain yang prospeknya bisa dibilang lebih pasti dari segi pendapatan dan keuntungan. Apalagi, kompetisi bola di Indonesia diklaim Dani suka bermasalah.

"Kalau perusahaan biasa kan investor mudah lihatnya dari penjualan dia berapa, nah ini kan beda. Liga di Indonesia kadang juga bermasalah, misalnya waktu itu liga di Indonesia sempat berhenti," paparnya.

Jadi, karyawan swasta ini menilai emiten Bali United belum cukup menjanjikan ke depannya. Oleh karena itu, ia berencana membeli sedikit saham perusahaan itu dengan jangka waktu pendek atau trading.

"Mungkin nanti beli tapi ditarik cepat saja kalau sudah naik sekian persen, jadi tidak apa-apa transaksi asal bukan untuk jangka panjang," terang Dani.
[Gambas:Video CNN]
Salah satu investor ritel yang mulai menanam saham sejak tiga tahun lalu ini menyebut saham Bali United berpotensi menjadi saham spekulasi. Sebab, saham itu tak masuk dalam kategori blue chip dan liquid.

"Saya lihatnya nanti orang memandangnya ya bisa nih dibeli tapi sebatas spekulasi ya," jelas Dani.

Senada, Damar yang juga menjadi investor ritel beranggapan saham Bali United belum tepat dijadikan tempat untuk berinvestasi untuk jangka panjang. Menurut dia, manajemen masih memiliki pekerjaan rumah untuk membuktikan kepada pelaku pasar bahwa kinerja keuangan perusahaan ke depannya bisa lebih positif dari sebelum IPO.

"Untuk hit and run boleh lah, yang penting cermati terus. Untuk jangka panjang nggak lah karena itu hanya fenomena sesaat saja," ungkap Damar.


Jika kondisi fundamental perusahaan diam di tempat, maka sulit rasanya harga saham Bali United menetap di zona hijau. Lama kelamaan, saham tersebut akan mencapai titik jenuh dan akhirnya terkoreksi.

"Minggu depan kelihatannya sudah jenuh, saat saham jenuh bisa-bisa langsung anjlok," kata dia.

Sementara, investor lainnya juga bernama Jumianus menyatakan enggan untuk masuk ke saham Bali United saat ini. Pasalnya, ia belum bisa mengukur prospek Bali United lantaran tak ada emiten sejenis di BEI.

"Belum ada perusahaan sejenis yang bisa dijadikan komparasi, Bali United klub bola pertama. Kinerja setelah listing bagaimana belum tahu," tutur Jumianus.


Kenaikan harga saham Bali United ketika perdagangan perdana dan beberapa hari setelahnya dianggap Jumianus sebagai spekulasi semata. Dengan kata lain, belum bisa dibuktikan bahwa fundamental perusahaan akan terjaga hingga waktu mendatang.

"Spekulasi ini karena melihat harganya naik terus setelah listing, apakah akan berlanjut naik itu bergantung pada kinerja setelah menghuni bursa. Lihat dari laporan keuangannya," terang dia.

Makanya, Jumianus mengaku tengah menunggu rilis laporan keuangan Bali United periode kuartal I 2019 keluar. Jika memang positif, tak menutup kemungkinan baginya untuk mencicipi saham tersebut.

"Dan kalau harganya menarik juga," pungkasnya. (aud/agi)