Kemenhub Kaji Bus O-Bahn Meski Lebih Mahal dari TransJakarta

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 03:36 WIB
Kemenhub Kaji Bus O-Bahn Meski Lebih Mahal dari TransJakarta Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri menyebut O-Bahn lebih murah dalam hal operasional dair TransJakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mewacanakan konsep transportasi massal bus berjalur, O-Bahn, di kota-kota di luar Jakarta. Bus ini disebut lebih mahal dari TransJakarta dari segi dana proyek, namun lebih murah dari sisi operasional.

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri, menjelaskan O-Bahn adalah transportasi massal yang menggabungkan konsep Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT). O-Bahn yang berbentuk bus akan beroperasi seperti bus pada umumnya, tetapi pada beberapa rute terdapat jalur khusus.

Dengan jalur khusus tersebut O-Bahn bisa berjalan lebih cepat dibanding bus di jalan umum. Zulkifli membandingkan dengan dengan TransJakarta yang berjalan di atas 60 kilometer per jam (kpj), sementara O-Bahn bisa melaju di atas 80 km/jam di jalur khusus.


"Pada dasarnya kita butuh pengembangan angkutan di kota-kota besar di luar Jakarta karena bus masih kurang. Kita butuh yang efisien penggunaan ruang, energi dan efisien pengurangan polusi," kata Zul saat diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (23/6).

Dari segi biaya pembangunan, Zul menjelaskan pembangunan O-Bahn lebih murah dari Mass Rapid Transit (MRT) dan LRT. Namun, berdasarkan referensi Zul, bila dibandingkan dengan pembangunan BRT seperti TransJakarta, pembangunan O-Bahn lebih mahal 20 persen.

"Tapi biaya operasional O-Bahn lebih murah dari pada BRT. Jadi lebih produktif O-Bahn. Ini semua masih hitungan secara umum dan berdasarkan referensi yang saya baca," kata Zul.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, menjelaskan O-Bahn diperuntukkan bagi kota-kota besar yang tidak memiliki kereta dalam kota. Seperti kota Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Palembang, Yogyakarta dan Solo.

"(Sebelum implementasi O-Bahn) Harus ada dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kalau barang sudah ada tapi regulasi belum ada nanti bisa jadi masalah," kata Budi.

Budi menjelaskan O-Bahn pertama kali beroperasi di Essen, Jerman. Kemudian diadaptasi dan diterapkan di Adelaide (Australia) dan Inggris.

[Gambas:Video CNN] (adp/ayp)