Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri, menjelaskan O-Bahn adalah transportasi massal yang menggabungkan konsep Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT). O-Bahn yang berbentuk bus akan beroperasi seperti bus pada umumnya, tetapi pada beberapa rute terdapat jalur khusus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari segi biaya pembangunan, Zul menjelaskan pembangunan O-Bahn lebih murah dari Mass Rapid Transit (MRT) dan LRT. Namun, berdasarkan referensi Zul, bila dibandingkan dengan pembangunan BRT seperti TransJakarta, pembangunan O-Bahn lebih mahal 20 persen.
Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, menjelaskan O-Bahn diperuntukkan bagi kota-kota besar yang tidak memiliki kereta dalam kota. Seperti kota Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Palembang, Yogyakarta dan Solo.
"(Sebelum implementasi O-Bahn) Harus ada dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kalau barang sudah ada tapi regulasi belum ada nanti bisa jadi masalah," kata Budi.
Budi menjelaskan O-Bahn pertama kali beroperasi di Essen, Jerman. Kemudian diadaptasi dan diterapkan di Adelaide (Australia) dan Inggris.
[Gambas:Video CNN] (adp/ayp)