Pemerintah Sangsi Industri Manufaktur Mengilap Tahun Depan

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 18:32 WIB
Pemerintah Sangsi Industri Manufaktur Mengilap Tahun Depan Ilustrasi industri tekstil. (ANTARA FOTO/Maulana Surya).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah menyangsikan kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Lihatlah, dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2020, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 19,83 persen. Angka itu tak jauh berbeda dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar 20,07 persen.

Apalagi, Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prijambodo menyebutkan perolehan tersebut bukan diraih angin-anginan semata. Ia menilai perlu usaha besar untuk mempertahankan kontribusi sektor manufaktur di posisi tersebut.

Untuk mempertahankan porsi manufaktur terhadap PDB, setidaknya butuh pertumbuhan industri yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi. Sesuai RKP, pertumbuhan ekonomi 2020 berada di angka 5,3 persen, sehingga pertumbuhan industri manufaktur harus berada di posisi tersebut.

"Nyatanya, sejauh ini pertumbuhan industri manufaktur selalu di bawah pertumbuhan ekonomi. Tahun lalu saja, pertumbuhan industri sebesar 4,3 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen. Ini sangat rendah, tak bisa jadi penggerak ekonomi," ujar Bambang di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (24/6).


Kemudian, industri manufaktur pun tak lepas dari berbagai tantangan. Bahkan, hingga tahun depan. Pertama, adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang tentu mempengaruhi kinerja ekspor dan produksi manufaktur Indonesia.

Kedua, ada masalah integrasi antar hulu hingga hilir industri sehingga nilai tambah industri manufaktur Indonesia tak pernah maksimal. Ketiga, industri pengolahan migas yang terus menunjukkan pelemahan setiap tahun.

"Konsekuensi industri pengolahan migas yang menarik ke bawah ini membuat industri pengolahan sulit tumbuh sesuai dengan PDB. Jadi, memang kami akan mencari sasaran yang tepat untuk menggerakkan industri dan tetap menjaga ekspor agar penyerapan tenaga kerja tetap bisa luas," jelas Bambang.

Selain menjaga pacu pertumbuhan industri agar sesuai pertumbuhan ekonomi, strategi meningkatkan kembali industrialisasi juga dilakukan melalui investasi.
[Gambas:Video CNN]
Sesuai RKP tahun depan, rencananya pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp875,1 triliun hingga Rp890,3 triliun atau meningkat dibanding target yang dipasang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun ini, yakni Rp792,3 triliun.

Menurut rencana tersebut, sebanyak 36,2 persen realisasi investasi harus bergerak di sektor manufaktur atau naik dibanding tahun ini yang ditaksir sebesar 33,2 persen.

"Kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) manufaktur akan jadi perhatian, karena sektor industri berkurang peranannya. Ini kami akan lihat di sisi investasinya," imbuh dia.

Hingga kuartal I lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri pengolahan sebesar 3,86 persen atau di bawah pertumbuhan ekonomi 5,07 persen secara tahunan. Dari angka tersebut, pertumbuhan tertinggi dicatat industri tekstil dan pakaian 18,98 persen, dan industri pengolahan tembakau sebesar 16,1 persen.


(glh/bir)