Apalagi, Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prijambodo menyebutkan perolehan tersebut bukan diraih angin-anginan semata. Ia menilai perlu usaha besar untuk mempertahankan kontribusi sektor manufaktur di posisi tersebut.
Untuk mempertahankan porsi manufaktur terhadap PDB, setidaknya butuh pertumbuhan industri yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi. Sesuai RKP, pertumbuhan ekonomi 2020 berada di angka 5,3 persen, sehingga pertumbuhan industri manufaktur harus berada di posisi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, industri manufaktur pun tak lepas dari berbagai tantangan. Bahkan, hingga tahun depan. Pertama, adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang tentu mempengaruhi kinerja ekspor dan produksi manufaktur Indonesia.
"Konsekuensi industri pengolahan migas yang menarik ke bawah ini membuat industri pengolahan sulit tumbuh sesuai dengan PDB. Jadi, memang kami akan mencari sasaran yang tepat untuk menggerakkan industri dan tetap menjaga ekspor agar penyerapan tenaga kerja tetap bisa luas," jelas Bambang.
Selain menjaga pacu pertumbuhan industri agar sesuai pertumbuhan ekonomi, strategi meningkatkan kembali industrialisasi juga dilakukan melalui investasi.
[Gambas:Video CNN]
Sesuai RKP tahun depan, rencananya pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp875,1 triliun hingga Rp890,3 triliun atau meningkat dibanding target yang dipasang Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun ini, yakni Rp792,3 triliun.
Menurut rencana tersebut, sebanyak 36,2 persen realisasi investasi harus bergerak di sektor manufaktur atau naik dibanding tahun ini yang ditaksir sebesar 33,2 persen.
"Kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) manufaktur akan jadi perhatian, karena sektor industri berkurang peranannya. Ini kami akan lihat di sisi investasinya," imbuh dia.
Hingga kuartal I lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri pengolahan sebesar 3,86 persen atau di bawah pertumbuhan ekonomi 5,07 persen secara tahunan. Dari angka tersebut, pertumbuhan tertinggi dicatat industri tekstil dan pakaian 18,98 persen, dan industri pengolahan tembakau sebesar 16,1 persen. (glh/bir)