Pelabuhan Marunda Disebut Penting untuk Kurangi Dana Logistik

KCN, CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 17:25 WIB
Pelabuhan Marunda Disebut Penting untuk Kurangi Dana Logistik Ilustrasi pelabuhan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengoperasian Pelabuhan Marunda diklaim membuat bongkar muat barang muatan curah kapal tak lagi bergantung pada Pelabuhan Tanjung Priok.

Hal ini disebut mengurangi penumpukan kontainer sehingga secara tak langsung mengurangi biaya logistik.

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Nofrisel, mengungkapkan peningkatan infrastruktur kepelabuhan di Jakarta membuat biaya yang ditanggung pengusaha menjadi lebih efisien.


Ia juga menyebut kepastian waktu jadi faktor penentu lain dalam upaya penurunan biaya logistik.

"Logistik itu butuh kepastian. Kalau saya enggak yakin barang keluar pelabuhan dalam sekian waktu dan truk dari Cikampek ke pelabuhan enggak bisa dihitung, saya kan khawatir. Itu biaya. Beban ke kita," ungkap Nofrisel dalam keterangannya, Kamis (20/6).

Pelabuhan Marunda yang dikelola PT Karya Citra Nusantara (KCN) baru mengoperasikan satu dermaga (pier) dengan dua lainnya masih dibangun.

Karena itu, Marunda baru melayani bongkar muat kapal muatan curah di dermaga pier I yang beroperasi sepanjang 800 meter dari 1.950 yang direncanakan.

Dengan mulai terurainya penumpukan bongkar muat di Priok setelah beroperasinya Pelabuhan Marunda, waktu tunggu barang yang keluar dari pelabuhan menjadi lebih cepat dan terukur. 

"Pelabuhan ini sangat penting. Karena secara kapasitas kita sudah tak bisa jangka panjang gunakan Priok, jadi langkah cari pelabuhan pengumpul baru seperti KCN Marunda itu sudah benar secara vision," katanya.

KCN berdiri pada 2005 dan dibentuk untuk mengelola Pelabuhan Marunda.

Nofrisel mengatakan pengusaha logistik selalu dipusingkan dengan mahal biaya logistik yang juga berpengaruh pada daya saing.

"Kalau dari sisi market, kami butuh. Sekarang kan (biaya logistik) di atas 20%, tinggi sekali, di antara itu juga terganggu oleh kualitas dari pelayanan. Kontribusi cost terbesar transportasi sekitar 39%," katanya.

Kalau pemerintah bangun fasilitas infrastruktur transportasi sangat efektif, selain itu pergudangan dan pelabuhan itu bisa membuka semacam ruang cost efisiensi di 18-20%."

(vws)