Pagi hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah, seperti Baht Thailand sebesar 0,09 persen, peso Filipina melemah 0,16 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,33 persen.
Namun di sisi lain, terdapat pula mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,03 persen, dolar Singapura sebesar 0,05 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,07 persen, dan yen Jepang sebesar 0,23 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan euforia investor setelah pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump ternyata hanya sementara. Sebab, pelaku pasar menyadari bahwa perundingan dagang antara keduanya masih butuh jalan yang panjang.
Tak hanya itu, pelemahan rupiah masih terpengaruh atas prospek ekonomi global. Di dalam laporan Global Economic Prospect edisi Juni 2019, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini sebesar 0,3 persen dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen.
Begitu pun dengan Indonesia, yang diramal hanya bisa tumbuh 5,1 persen tahun ini seiring perlambatan ekspor gara-gara perang dagang.
"Sehingga, untuk range hari ini ada di angka Rp14.091 hingga Rp14.182 per dolar AS," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)