Pelemahan Penurunan Cadangan AS Tekan Harga Minyak Dunia

CNN Indonesia | Jumat, 05/07/2019 07:23 WIB
Pelemahan Penurunan Cadangan AS Tekan Harga Minyak Dunia Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Kamis (4/7) terbebani oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global. Pelemahan juga terjadi akibat berkurangnya kekuatan penurunan cadangan minyak mentah di AS.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 52 sen atau 0,81% menjadi US$ 63,30 per barel. Padahal, Brent sempat ditutup naik 2,3% pada Rabu (3/7).

Untuk minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) harga turun 54 sen atau 0,94% menjadi US$ 56,89 per barel. Volume perdagangan minyak memang sedikit melandai karena liburan peringatan hari kemerdekaan AS pada 4 Juli kemarin.


Sebagai catatan Administrasi Informasi Energi AS pada Rabu lalu melaporkan stok minyak mentah di Negeri Paman Sam turun 1,1 juta barel secara mingguan. Penurunan cadangan minyak tersebut jauh dibandingkan proyeksi American Petroleum Institute.


Pasalnya lembaga tersebut pada awal pekan lalu memproyeksikan cadangan minyak mentah AS akan turun 5 juta barel. Pelemahan penurunan cadangan minyak di AS tersebut terjadi  karena kilang AS pekan lalu mengkonsumsi lebih sedikit minyak mentah dari minggu sebelumnya.

"Data penurunan cadangan tersebut sama sekali tidak mendukung harga yang lebih tinggi. Tidak hanya pengurangan persediaan minyak mentah yang terbukti lebih kecil dari yang diharapkan, cadangan tersebut juga jauh dari yang dilaporkan oleh API sehari sebelumnya," tulis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien .

Penurunan konsumsi minyak tersebut terjadi karena kilang memproses minyak 2 persen lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Penurunan tersebut menunjukkan permintaan minyak di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah terbesar di dunia, bisa melambat di tengah tanda-tanda melemahnya ekonomi.

Penurunan permintaan tersebut sudah mulai tercium dari pelemahan pesanan baru untuk barang-barang pabrik AS yang dua bulan berturut-turut melemah. Penurunan permintaan tersebut menambah kekhawatiran ekonomi hingga ikut menekan harga minyak.

"Sentimen tersebut mengesampingkan fluktuasi jangka pendek di sekitar data inventaris. Kondisi tersebut membuat semuanya mustahil untuk melarikan diri dari kenyataan ekonomi bahwa kita berada di tengah-tengah penurunan manufaktur global," kata Stephen Innes, mitra pelaksana, Vanguard Markets. 

[Gambas:Video CNN]

(Reuters/agt)