Happy hour merupakan tawaran diskon tarif 50 persen tiket pesawat dari Tarif Batas Atas (TBA) maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC) untuk penerbangan setiap Selasa, Kamis, Sabtu, pukul 10.00-14.00.
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan kerugian yang ditimbulkan akibat happy hour akan ditanggung enam pihak, dua maskapai LCC, AP I, AP II, Pertamina selaku penyedia avtur, dan AirNav. Namun, struktur biayanya berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, tanggungan AP I dan AP II menyangkut jasa, seperti biaya parkir (parking fee) dan biaya pendaratan (landing fee). Sedang, AirNav menanggung biaya enroute charge dan terminal navigation charge.
Susiwijono memberi simulasi perhitungan tersebut. Misal, jika tarif normal penerbangan LCC dari Jakarta ke Surabaya sebesar Rp1 juta, maka diskon happy hour akan membuat tarif penerbangan itu menjadi Rp500 ribu. Artinya, selisih antara harga diskon dan harga asli sebesar Rp500 ribu itu lah yang akan ditanggung sesuai porsi masing-masing pihak.
"Tapi masalahnya, cost structure biaya ini dinamis. Avtur harganya berubah sebulan dua kali dan ada hal lainnya. Nah, untuk kebijakan ini, kami putuskan evaluasi kebijakannya akan sebulan mendatang," jelasnya.
Ia mengatakan evaluasi teknis ihwal kerugian yang ditanggung masing-masing pihak akan dilakukan pada Jumat setiap minggunya. Evaluasi dilakukan dengan merekonsialisasi kerugian yang diklaim oleh masing-masing pihak.
Susiwijono merinci empat pertimbangan rekonsiliasi data tersebut. Pertama, total kerugian yang ditimbulkan. Kedua, struktur biaya selama happy hour berlangsung.
[Gambas:Video CNN]
Ketiga, memastikan apakah klaim kerugian seluruh pihak benar-benar digunakan untuk penerbangan happy hour. Kemudian, yang terakhir, adalah rekonsiliasi data mengenai jumlah penumpang yang membeli tiket pesawat happy hour tersebut, mengingat diskon ini hanya berlaku bagi 30 persen penumpang saja.
Memang, ia mengakui teknis diskon tarif 50 persen ini sangat rumit. Namun, kebijakan ini ditempuh lantaran ingin menciptakan keadilan bagi maskapai yang ingin bertahan hidup dan kebutuhan masyarakat yang ingin menikmati maskapai berbiaya murah.
"Ya memang rumit caranya, karena kan kami semua butuh penerbangan murah. Cara apapun tentu kami siapkan," tandasnya. (glh/bir)