Bappenas Usulkan Pengurangan Ekspor Batu Bara ke Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 18/07/2019 20:07 WIB
Bappenas Usulkan Pengurangan Ekspor Batu Bara ke Jokowi Batu bara. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengusulkan kepada pemerintah untuk menurunkan jumlah ekspor batu bara. Usulan penurunan mereka tuangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2020-2024.

Perencana Utama Kedeputian Maritim dan Sumber Daya Mineral Bappenas Hanan Nugroho mengatakan penurunan ekspor tersebut penting dilakukan demi memperkuat ketahanan energi nasional. Bappenas menilai, Indonesia masih butuh batu bara dalam negeri untuk jangka waktu panjang.

"Jadi maksudnya ekspor dikurangi untuk memprioritaskan ketahanan energi nasional ke depan, Indonesia akan butuhkan energi. Energi yang dimiliki Indonesia paling banyak itu batu bara, jadi disiapkan untuk pasokan nasional ke depan," ucap Hanan, Kamis (18/7).


Ia tak menyebut pasti berapa penurunan yang diusulkan oleh Bappenas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk periode lima tahun ke depan. Pasalnya, usulan masih berbentuk rancangan atau belum final.


"Yang pasti yang dipersiapkan dalam RPJMN itu memperkuat kemampuan di dalam negeri," terang dia.

Dalam RPJMN 2015-2019, pemerintah mematok target produksi batu bara per tahunnya rata-rata 400 juta ton. Rinciannya, target produksi batu bara 2015 sebanyak 425 juta ton, 2016 sebanyak 419 juta ton, 2017 sebanyak 413 juta ton, 2018 sebanyak 406 juta ton, dan 2019 sebanyak 400 juta ton.

Dari total produksi itu, target ekspor ditetapkan bervariasi dan cenderung menurun. Pada 2015 targetnya mencapai 323 juta ton, 2016 sebanyak 308 juta ton, 2017 sebanyak 292 juta ton, 2018 sebanyak 275 juta ton, dan 2019 sebanyak 160 juta ton.

Meski target dalam RPJMN terlihat turun, tapi realisasinya justru menanjak. Pada 2018 misalnya, pemerintah menaikkan kuota produksi batu bara untuk kebutuhan ekspor sebanyak 100 juta ton.

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah berdalih kenaikan  kuota bertujuan untuk menggenjot devisa negara pada tahun lalu. Selain itu, peningkatan ekspor batu bara juga dilakukan demi menyelamatkan rupiah yang sedang terperosok terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Ya kadang-kadang memang yang namanya rencana itu dalam perjalanannya menemui situasi ketidakpastian. Itu kan misalnya ada persoalan neraca perdagangan Indonesia, impor besar jadi ada kasus ini target awal diubah," paparnya.

Secara terpisah, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Ditjen Minerba Kementerian ESDM Sri Raharjo mengatakan pihaknya berharap RPJMN periode selanjutnya bisa lebih realistis. Masalahnya, jumlah produksi batu bara sejumlah perusahaan meningkat.


"Kapasitas produksi kan dihitung dari masing-masing feasibility study perusahaan, ada yang meningkat dari eksplorasi ke produksi," ujar Raharjo.

Menurutnya, jumlah produksi batu bara dalam dua tahun terakhir lebih tinggi daripada target dalam RPJMN. Untuk usulan target produksi dan ekspor selanjutnya, Raharjo menyatakan masih dalam tahap proses. (aud/agt)