Sekretaris Perusahaan PT Pos Indonesia Benny Otoyo menjelaskan perusahaan butuh modal kerja untuk mendanai operasi, mendanai tagihan, dan lain sebagainya. Diakui, modal kerja itu memang dipinjam dari perbankan.
"Pinjaman ini unpledged. Artinya, tidak ada aset yang diagunkan. Membayar gaji termasuk dalam biaya operasi. Tapi, bukan berarti pinjam uang untuk bayar gaji. Tidak akan ada bank yang mau memberi pinjaman untuk tujuan bayar gaji," tutur dia kepada CNNIndonesia.com, melalui keterangan resmi, Senin (22/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:PT Pos Indonesia Tepis Isu Bangkrut |
"Kami memikul dua tugas besar, pertama, beban masa lalu sebelum terjadinya liberalisasi, seperti tertuang dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2009 tentang Liberalisasi Industri Postal. Kedua, penugasan PSO (public service obligation) yang belum mendapatkan kompensasi sesuai dengan tugas yang dipikul," imbuh Benny.
"Bagaimana bisa dibilang bangkrut? Jelas ini pendiskreditan tanpa data. Faktanya, semua utang lancar. Hak karyawan tidak tertunda; kenaikan gaji terus diterapkan," terang Benny.
Tak cuma itu, ia mengungkapkan perusahaan juga terus membayarkan iuran program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk karyawan.
Di tengah krisis keuangan yang melanda, ia mengklaim manajemen juga tidak melakukan restrukturisasi dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Fakta lain, perusahaan masih memberikan layanan Pos Universal 6 hari per minggu, postal services di luar negeri melayani 4-5 hari per minggu.
Perusahaan juga tercatat masih mengantongi pendapatan yang bersumber dari APBN, PSO, fee distribusi meterai, fee penerimaan setoran pajak, jasa kurir surat dinas dengan nilai Rp800 miliar per tahun.
"Turn over jasa keuangan sekitar Rp20 triliun per bulan (karena kami punya jasa keuangan)," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (bir)