Pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, baht Thailand melemah 0,07 persen, dan dolar Singapura juga melemah 0,07 persen.
Kemudian, peso Filipina melemah 0,1 persen dan yen Jepang melemah 0,16 persen. Di kawasan Asia, hanya won Korea Selatan saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai sebesar 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah banyak dipicu sentimen global. Pertama, datang dari antisipasi pelaku pasar terhadap pengumuman kebijakan suku bunga global.
Sebagai informasi, Bank Sentral Eropa (ECB) dan bank sentral Jepang akan mengumumkan kebijakan suku bunga mereka pekan ini. Kemudian, bank sentral AS The Fed juga akan mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya pekan depan.
Ternyata, pernyataan itu tak mewakili arah kebijakan The Fed ke depan. "Tetapi, pelaku pasar umumnya mengharapkan bank sentral untuk memotong suku bunga atau mempertahankan kebijakan yang akomodatif," jelas Ibrahim, Selasa (23/7).
[Gambas:Video CNN]
Kedua, kondisi politik di Inggris. Pelaku pasar khawatir dengan kemungkinan Boris Johnson menjadi perdana menteri baru. Kekhawatiran menguat karena ia diperkirakan akan nekad membawa Inggris cerai dari Uni Eropa tanpa kompensasi apapun (no-deal Brexit).
Jika no-deal terjadi, maka Inggris bisa jatuh ke resesi ekonomi. Akibatnya, Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond mengancam akan mundur dari kabinet pada Rabu pekan ini. Sementara itu, pelaku pasar mulai kembali ke dolar AS dan meninggalkan poundsterling.
"Sehingga, dalam perdagangan hari ini ada kemungkinan rupiah berada di antara Rp13.925 hingga Rp13.995 per dolar AS," kata dia. (glh/agt)