Nissan tercatat mempekerjakan sekitar 139 ribu karyawan di negara operasionalnya di seluruh dunia. Seperti dilansir AFP, Rabu (24/7), upaya PHK ditempuh demi menekan kerugian perusahaan jatuh lebih dalam.
Diketahui, laba bersih perusahaan jatuh ke level terendahnya dalam satu dekade terakhir. Laba rontok karena iklim usaha tengah lesu, bahkan diproyeksi terjadi hingga 12 bulan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Huawei PHK 600 Karyawan, Dampak Sanksi AS |
"Kami belum memutuskan apa yang akan kami umumkan pada konferensi pers besok dan kami tidak mengomentari spekulasi media," ujar Koji Okuda, juru bicara Nissan.
Perusahaan semakin terpuruk menghadapi ketegangan dengan Renault, mitranya dari Prancis. Padahal, Renault memiliki 43 persen saham perusahaan otomotif pabrikan Jepang tersebut dan tengah menjalani perombakan untuk memperkuat organisasi setelah skandal Ghosn.
Lihat juga:Deutsche Bank Bakal PHK 18.000 Karyawan |
Kantor Berita Kyodo, seperti dikutip dari AFP, menyebut pemangkasan tenaga kerja yang dilakukan Nissan akan menghantam sejumlah pabrik di Amerika Selatan dan daerah lain.
Pada Mei 2019, Nissan melaporkan laba bersih untuk tahun fiskal yang berakhir Maret sebesar 319 miliar yen atau US$2,9 miliar. Realisasi ini tercatat yang terlemah sejak 2009-2010 silam ketika perusahaan berjuang usai krisis keuangan global.
Realisasi laba bersih kuartal I tersebut juga tercatat melorot 57 persen dibandingkan Maret 2018 lalu. Proyeksi laba untuk tahun ini diperkirakan akan lebih suram lagi.
[Gambas:Video CNN] (afp/bir)