"Ya biar [menteri] perindustrian dulu yang evaluasi seperti apa," ujar Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (24/7).
Menurut Darmin, evaluasi dari Airlangga diperlukannya agar bisa memutuskan kebijakan yang tepat untuk pengembangan industri tersebut. Namun sejauh ini, ia memandang industri tekstil memang cukup tertekan akibat ketidakpastian kondisi ekonomi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Industri tekstil saat ini tengah tertekan. Hal itu juga mendera PT Delta Merlin Dunia Tekstil (DMDT), anak usaha dari grup perusahaan tekstil Duniatex yang ditengarai sedang kesulitan likuiditas.
Selain itu, kemungkinan pemberian alokasi anggaran negara untuk restrukturisasi juga didukung oleh semangat mendorong daya saing. "Sebenarnya sudah banyak sekali pemerintah turun tangan, dulu misalnya kami lakukan revitalisasi industri gula bagi mesin yang dianggap tua dan lainnya," kata Sri Mulyani.
Kendati demikian, bendahara negara belum bisa memberi sinyal pasti apakah harapan restrukturisasi dari para pelaku industri tekstil mungkin segera dikabulkan atau tidak.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori mengatakan target dibuat dengan melihat perkembangan kinerja ekspor TPT belakangan ini. Data Kementerian Perindustrian, ekspor produk tersebut dalam tiga tahun belakangan ini cukup bagus dan meningkat.
Untuk 2016, nilai ekspor TPT berhasil menembus US$11,87 miliar. Nilai tersebut meningkat menjadi US$12,59 miliar pada 2017 dan naik lagi menjadi US$13,27 miliar di 2018. (uli/asa)