EDUKASI KEUANGAN

Siapkan Dana Haji Sedini Mungkin

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Sabtu, 27/07/2019 10:40 WIB
Siapkan Dana Haji Sedini Mungkin Ilustrasi calon jemaah haji. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana).
Jakarta, CNN Indonesia -- Merayakan Hari Raya Idul Adha di tanah suci mungkin menjadi impian bagi banyak umat Muslim. Tetapi, belum tentu setiap orang punya kesempatan itu. Selain ada batas kuota haji yang diterapkan setiap tahunnya, biaya untuk melaksanakan Rukun Islam kelima ini juga tak murah.

Masyarakat perlu merogoh kocek minimal puluhan juta untuk menyiapkan dana haji. Itu pun jika menggunakan program haji dengan jalur reguler.

Bila memilih jalur khusus, dana yang dikeluarkan bisa sampai ratusan juta. Maklum, fasilitas yang diperoleh juga berbeda dengan haji reguler.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah Indonesia (Asphurindo) Hafidz Taftazani mengatakan masyarakat yang hendak pergi haji dengan jalur reguler perlu menunggu waktu sekitar 20 tahun-30 tahun. Berbeda dengan jalur khusus yang hanya lima tahun.

"Kalau jalur khusus minimal dana (pergi haji) US$8 ribu (Rp112 juta dengan kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat)," ucap Hafidz kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/7).


Namun, tak jarang ada perusahaan travel yang memberikan harga lebih dari itu. Beberapa varian harga haji dengan jalur khusus, antara lain sebesar US$10 ribu atau Rp140 juta, US$12 ribu atau Rp168 juta, US$20 ribu atau Rp280 juta, dan US$28 ribu atau Rp392 juta.

"Kalau jalur khusus, bayar DP (down payment) dulu US$4 ribu (Rp56 juta), tapi ada juga yang lebih dari itu," katanya.

Sementara, harga paket haji jalur reguler jauh lebih murah, yakni Rp35 juta untuk saat ini. Tak harus langsung dilunasi, tapi tetap ada DP yang perlu dibayar.

"Untuk urus itu biasanya bisa langsung ke travel, semua diurus travel," ujarnya.

Perencana Keuangan Zielts Consulting Ahmad Gozali mengatakan persiapan keuangan untuk berangkat ke tanah suci dibagi menjadi dua bagian, yaitu pendaftaran dan pelunasan. Pada tahap pendaftaran, calon jemaah haji perlu menyetor DP untuk mendapatkan nomor kuota antrean.

Siapkan Dana Haji Sedini MungkinIlustrasi calon jemaah haji. (ANTARA FOTO/Akbar Tado).

Untuk jalur reguler, uang yang harus dibayar saat pendaftaran senilai Rp25 juta. Jadi, hal pertama yang harus dipikirkan adalah bagaimana menyediakan uang sebesar itu terlebih dahulu.

"Semakin cepat mendaftar nanti semakin cepat pula mendapatkan giliran berangkat, saat ini antreannya sekitar 20 tahun. Kalau daftar usia 30 tahun, maka berangkatnya kira-kira 50 tahun," tutur Ahmad.

Oleh karena itu, seseorang harus mengumpulkan uang untuk naik haji sedini mungkin agar bisa berangkat ke Tanah Suci ketika masih bugar. Setidaknya, Ahmad menyebut calon jemaah maksimal mendaftar di usia 30 tahun.

Ada dua cara untuk mendapatkan dana Rp25 juta dalam jangka waktu menengah dan panjang. Untuk jangka waktu panjang sampai 5 tahun, calon jemaah hanya perlu menabung sekitar Rp400 ribu-Rp500 ribu per bulan.

"Jika Rp25 juta terkumpul dalam waktu lima tahun, maka tanpa investasi perlu dana Rp5 juta per tahun. Sebulannya sekitar Rp400 ribu," jelasnya.


Namun, jika tak sabar menunggu lima tahun, masyarakat bisa berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap syariah dengan asumsi imbal hasil (return) 7 persen per tahun. Bila dana yang diinvestasikan sebesar Rp630 ribu per bulan, uang untuk DP berangkat haji bisa terkumpul dalam waktu tiga tahun saja.

"Kalau mau lebih cepat ya setoran investasinya Rp1 juta per bulan, ini dalam waktu dua tahun sudah bisa punya Rp25 juta untuk daftar kuota haji. Ini dengan asumsi imbal hasil 7 persen ya," terang Ahmad.

Selain itu, masyarakat juga bisa mencicipi investasi emas untuk mengumpulkan uang Rp25 juta. Ia menyebut nilai DP itu setara dengan 40 gram emas. "Jadi kalau mau daftar dua tahun lagi, cukup beli 10 gram emas per enam bulan," imbuh dia.

Setelah uang Rp25 juta terkumpul, masyarakat disarankan segera mendaftarkan diri agar dana yang sudah ada tidak terpakai untuk dibelanjakan hal-hal yang tidak penting. Bila proses pendaftaran selesai dan mendapatkan nomor antrean, pekerjaan rumah (PR) selanjutnya adalah mengumpulkan sisa dana agar dapat dibayar sebelum tenggat waktu.

"Dalam lima tahun terakhir sih biaya haji totalnya sekitar Rp35 juta. Jadi pelunasan ini diperlukan dana Rp10 juta," ujar Ahmad.


Jika memang tidak ada kenaikan, masyarakat bisa mengandalkan tabungannya yang sudah ada untuk melunasi biaya keberangkatan haji. Kalau tak ingin menggerus tabungan, calon jemaah bisa mengumpulkannya dari imbal hasil investasi.

"Tahap berikutnya untuk pelunasan sebesar Rp10 juta dalam waktu 20 tahun akan sangat ringan sekali," jelasnya.

Sementara itu, bagi masyarakat yang memilih haji jalur khusus perlu usaha ekstra dalam mengumpulkan uang. Bukan hanya karena dana yang dibayar lebih besar, tapi juga waktu pelunasan yang lebih cepat dibandingkan dengan jalur reguler.

Dengan waktu pelunasan yang lebih cepat setelah proses pendaftaran dilakukan, maka masyarakat sebaiknya sudah memiliki total uang yang dibutuhkan untuk berangkat haji dengan jalur khusus sebelum mendaftarkan diri.

"Waktunya pendek, bahkan bisa tanpa antre dan harganya biasanya kan dolar Amerika Serikat (AS)," tutur Ahmad.


Menurutnya, masyarakat bisa menanamkan investasi di instrumen reksa dana saham berdenominasi dolar AS, yang memberikan imbal hasil lebih tinggi ketimbang reksa dana pendapatan tetap syariah. Tetapi perlu diingat juga, potensi imbal hasil yang besar biasanya juga diiringi dengan fluktuasi yang tinggi.

"Fluktuasinya lebih tinggi (dibandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap syariah), makanya hanya cocok untuk jangka panjang," ujar Ahmad.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno berpendapat sebaiknya masyarakat mulai mengumpulkan uang untuk berangkat haji sejak mereka menerima gaji pertamanya. Jika ingin cepat, gaji yang disisihkan per bulannya minimal Rp500 ribu.

"Dengan demikian masyarakat bisa mendaftar untuk haji 50 bulan lagi," tutur Mike.

Jika tabungan juga dirasa tak cukup, ia menyarankan calon jemaah berinvestasi di instrumen berbau syariah. "Jadi bebas dari unsur riba, spekulasi. Investasi yang bisa dicoba emas, reksa dana saham syariah. Untuk pemilihan investasi syariah bisa disesuaikan dengan tenggat waktu yang dibutuhkan," jelas dia.
[Gambas:Video CNN]
Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menginginkan pergi haji dengan jalur khusus. Namun, jangka waktunya otomatis lebih panjang karena total dana yang dibutuhkan juga sampai ratusan juta.

Mike tak menyarankan masyarakat untuk berutang untuk melakukan ibadah haji. Masalahnya, utang itu sendiri rentan dengan riba atau perilaku yang diharamkan oleh Islam.

"Karakteristik utang biasanya ada pemberian keuntungan kepada pembeli pinjaman, tambahan kepada pemberi pinjaman itu riba," kata Mike.

Lagipula, ibadah haji hanya diwajibkan bagi yang mampu. Jika uang yang dimiliki belum cukup, masyarakat sebaiknya tak memaksakan diri untuk pergi ke Tanah Suci.


(bir)