Langkah ini dilakukan guna mengurangi masalah kebocoran dan dampak kekeringan yang sudah terjadi di lahan pertanian masyarakat sekitar akibat musim kemarau.
Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, sebanyak 710 hektare dari 9 ribu hektare lahan pertanian sudah terdampak kekeringan. Hal itu membuat petani gagal panen, namun belum ada perkiraan nilai kerugian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya kami lakukan perbaikan pintu air agar fungsi irigasi dari bendungan tidak terus turun. Harapannya, tingkat kebocoran air semakin minim, bahkan tidak ada," ungkapnya saat meninjau bendungan tersebut, Jumat (26/7).
"Ini merupakan perbaikan pertama sejak bendungan dibangun pada zaman Belanda pada 1927-1930 lalu," ujarnya.
Pengerjaan revitalisasi dilakukan melalui kerja sama dengan PT Barata Indonesia (Persero). Sementara itu, distribusi air dilakukan dengan menggandeng Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat untuk kebutuhan air baku masyarakat.
Lihat juga:PUPR Bakal Lelang 15 Bendungan |
Bila revitalisasi selesai dan musim berganti, Bambang memperkirakan bendungan bisa memenuhi kebutuhan air irigasi bagi 22.440 hektare lahan pertanian di sekitarnya. Sedangkan untuk air baku masyarakat bisa mencapai 1.000 liter per detik. Sementara saat ini masih sekitar 500 liter per detik.
Di sisi lain, untuk mengantisipasi dampak kekeringan di masyarakat, Kementerian PUPR juga akan membagikan pompa bagi masyarakat. Sayangnya, belum ada perkiraan pasti berapa jumlah pompa yang akan dibagikan.
Langkah antisipasi lain, yakni dengan membangun sumur di dekat pemukiman masyarakat. Pengeboran nantinya akan dilakukan oleh kementerian.
"Air dari sumur bisa untuk konsumsi sebulan setidaknya," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/lav)