Rupiah menguat bersama mayoritas mata uang Asia lainnya, seperti yen Jepang menguat sebesar 0,22 persen, peso Filipina 0,21 persen, dan won Korea Selatan 0,14 persen. Kemudian, dolar Hong Kong menguat 0,04 persen, baht Thailand 0,03 persen, dan dolar Singapura 0,02 persen.
Hanya yuan China dan ringgit Malaysia yang melemah dari dolar AS, masing-masing 0,12 persen dan 0,02 persen. Begitu pula dengan mata uang utama negara maju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.930 sampai Rp14.030 per dolar AS dengan kecenderungan melemah pada hari ini. Hal ini terjadi karena ada potensi penguatan mata uang Negeri Paman Sam masih ada.
Selain itu, potensi penguatan dolar AS juga datang dari sikap pesimis pasar terhadap perang dagang antara AS dengan China. Pasar, kata Ariston, mempertimbangkan kembali sinyal positif dari negosiasi yang dilakukan kedua negara.
"Pesimisme akan hasil yang memuaskan dari kedua belah pihak bisa mendorong penguatan dolar AS karena kekhawatiran pasar meningkat," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.
Lihat juga:LPS Buka Peluang Pangkas Bunga Simpanan |
Di sisi lain, keputusan bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang menahan tingkat suku bunga acuan memberi sinyal bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve juga tidak akan agresif memangkas bunga acuannya. "Ini juga mendorong penguatan dolar AS," tuturnya.
Terkait sentimen dari dalam negeri, belum ada yang bisa menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Terlebih, pasar terlalu fokus terhadap sikap The Fed yang bakal merilis keputusannya pada tengah pekan ini.
[Gambas:Video CNN] (uli/lav)