Chief Executive Officer (CEO) PT Lotte Mart Indonesia Joseph Buntaran mengatakan e-commerce memiliki karakter berbeda dengan ritel konvensional, di mana karakteristik itu mendorong e-commerce lebih cepat dalam mengembangkan bisnisnya dibandingkan ritel konvensional.
"Yang pasti kondisi saat ini sangat destruktif dan kami harus berpikir lebih ke depannya agar kami bisa survive (bertahan)," ujarnya, Senin (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah pasokan ini juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi ritel konvensional. Ketika pasokan belum habis, mereka harus menambah suplainya lantaran belum bisa melunasi pembayaran sebelumnya. Akibatnya, pasokan menumpuk.
"Jadi, untuk menutupi utang itu kami order (pesan) lagi, order lagi tapi untuk menjual itu kami tidak tahu kapan," jelasnya.
Ia mengungkapkan biaya pengembangan SDM Lotte Mart meningkat hingga 8 kali lipat sejak 2017-2018. Ini ditempuh perusahaan untuk mendorong pengembangan bisnis itu sendiri.
"Hampir 45 persen-50 persen operasional ritel offline berada di personal cost (biaya personal)," tuturnya.
Meski tidak gamblang merincikan nominal, ia menyebut penjualan Lotte Mart Indonesia tumbuh 4,41 persen dan laba tumbuh 5 persen pada kuartal I 2019.
[Gambas:Video CNN]
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan kenaikan bisnis e-commerce lebih rendah dibandingkan ritel offline. Tahun lalu, ritel konvensional berhasil tumbuh di rentang 7 persen-8 persen. Tahun ini, targetnya meningkat jadi 10 persen.
Namun, ia tidak menampik terjadi anomali. Menurut dia, konsumen cenderung memilih ritel offline dengan luasan toko lebih sempit, yakni 1.500-2.000 meter persegi. Akibatnya, banyak ritel offline dengan luasan 5.000-6.000 meter persegi yang menyesuaikan fenomena itu dengan efisiensi hingga relokasi gerai.
"Jadi ritel tidak akan hilang, tapi berevolusi terhadap perubahan yang terjadi baik perubahan teknologi maupun behaviour konsumen," katanya.
Di sisi lain, untuk menjawab tantangan pesaingnya, beberapa toko offline telah menyediakan layanan online. Ia menyebut 95 persen dari anggota Aprindo telah menyediakan layanan offline dan online. Ia mengaku kehadiran lini bisnis online mendongkrak pendapatan ritel konvensional, meski jumlahnya belum signifikan.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag Tjahya Widayanti mendorong ritel offline untuk mengembangkan inovasi termasuk mengembangkan saluran penjualan online. Ini perlu dilakukan guna memenuhi preferensi masyarakat.
Sebagai regulator ia menyebut pemerintah tengah menyiapkan rancangan Peraturan Pemerintah tentang perdagangan melalui sistem elektronik.
"Nantinya akan ada level playing field (kesetaraan) yang sama online dan offline," tandasnya. (ulf/bir)