"Jadi, tak ada lagi ketergantungan pada mesin Electronic Data Capture (EDC) dari bank. Tak ada lagi pembayaran tunai dengan tiket kertas, yang artinya semua pelanggan Transjakarta juga harus punya kartu bank," ujar Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (31/9).
Agung mengungkapkan sistem pembayaran yang digunakan di bus Transjakarta sejak dulu hanya menggunakan tiket melalui tapping di gerbang (gate) halte dengan menggunakan Kartu Uang Elektronik (KUE) dari bank. Skema pembayaran itu digunakan untuk rute BRT di dalam koridor atau yang lebih sering disebut busway.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua pembayaran pakai KUE dari Bank. Semua sistem yang menginstalasi dari bank. Akibatnya, Transjakarta jadi tergantung dengan bank. Termasuk dalam kesediaan mesin EDC," ujarnya.
Mengingat pasokan mesin EDC ini bergantung dari bank terkait, sebagai cadangan perusahaan menyediakan tiket kertas untuk bukti pembayaran.
Karenanya, semua armada bus non BRT saat ini dalam proses pemasangan mesin pembaca untuk TOB. Peralihan dari EDC ke TOB ini, lanjut Agus, semata-mata untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
[Gambas:Video CNN]
Ke depan, ia berharap Transjakarta menjadi angkutan modern yang terus berkembang.
"Kita semua terus bersama-sama membuat layanan Transjakarta lebih baik. Dari yang dulunya selalu pakai tiket kertas dan EDC untuk non BRT, ke depannya menjadi dengan Tap On Bus. Biar kayak orang-orang di angkutan modern kota-kota lain di dunia," pungkasnya. (sfr)