Sebelumnya, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan jumlah uang beredar pada Juni 2019 tercatat sebesar Rp5.911,2 triliun atau tumbuh 6,8 persen secara tahunan. Angka pertumbuhan ini melambat dibandingkan tahun lalu yang mencatat pertumbuhan 7,4 persen.
Peredaran uang beredar dalam arti luas atau disebut M2 terdiri atas uang giral dan uang kartal, ditambah dengan uang kuasi seperti tabungan dan simpanan berjangka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengatakan pertumbuhan ekonomi dalam tiga hingga empat tahun terakhir yang berada di kisaran 5 persen juga berimbas pada tren pertumbuhan uang beredar yang melandai.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi sejatinya bukan satu-satunya penyebab pertumbuhan uang beredar landai. Inflasi pun dianggapnya bisa menjadi penyebab pertumbuhan jumlah uang beredar. Pasalnya, ketika harga barang dan jasa melonjak tinggi, maka masyarakat cenderung tidak ingin membelanjakan uangnya terlalu sering.
Hanya saja, tren inflasi Indonesia dalam beberapa saat terakhir terbilang cukup terkendali. Hingga Juni 2019, inflasi secara tahunan di angka 3,28 persen, atau tak berbeda jauh dibanding inflasi 2018 di angka 3,13 persen.
"Kalau menurut saya, faktor utamanya tetap di pertumbuhan ekonomi yang belum cukup tinggi," papar dia.
Namun menurut Halim, pertumbuhan jumlah uang beredar yang melambat juga bisa jadi disebabkan oleh semakin meningkatnya penggunaan transaksi elektronik. Terlebih, uang elektronik tidak dimasukkan ke dalam formulasi uang beredar M1 atau M2.
"Jika untuk kegiatan sehari-hari, mungkin ada penurunan penggunaan uang kartal karena ada transaksi elektronik. Nah, transaksi elektronik ini menurunkan dengan sendirinya peredaran uang," papar dia.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, BI berdalih pertumbuhan jumlah uang beredar yang melambat disebabkan karena penurunan operasi keuangan pemerintah dan perlambatan penyaluran kredit. Operasi keuangan pemerintah tercatat menurun 12,7 persen secara tahunan sementara penyaluran kredit pada bulan lalu terbilang 9,9 persen atau lebih rendah dibanding Mei sebesar 11,1 persen. (glh/lav)