Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu Robert Pakpahan mengatakan mitigasi sejatinya sudah mulai dilakukan di bawah pimpinan langsung Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Terlebih, kementerian sudah menyadari ada potensi shortfall yang cukup besar pada tahun ini bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 2008.
Bendahara negara, kata Robert, sudah meminta masing-masing direktur jenderal untuk melihat potensi tiap-tiap pos penerimaan. Hal itu dilakukan setiap kali kementerian melakukan analisa Asset and Liability Management (ALM).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin PNBP naik, pajak turun, jadi sudah ada subtitusinya. Kemudian, ada pembiayaan lain, sehingga defisit anggaran tidak melebar," ujarnya.
Dengan proyek shortfall tersebut, pemerintah memperkirakan defisit anggaran hingga akhir tahun akan mencapai 1,93 persen dari PDB. Meski lebih lebar jika dibandingkan targetnya tahun ini yang sebesar 1,84 persen PDB, proyeksi defisit tersebut masih di bawah batas maksimal 3 persen PDB sesuai yang diamanatkan dalam Undang-undang Keuangan Negara.
Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan memperkirakan penerimaan pajak hanya akan mencapai Rp1.438,25 triliun hingga akhir tahun atau 91,16 persen dari target yang dipatok Rp1.577,56 triliun.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhannya hanya sekitar 9,5 persen. Konsekuensinya, shortfall pajak tahun ini diperkirakan hampir Rp140 triliun atau sekitar 26 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp110,67 triliun.
Apabila dirinci, penerimaan pajak penghasilan diperkirakan mencapai Rp818,56 triliun atau 91,5 persen dari target. Kemudian, pajak pertambahan nilai sebesar Rp592,79 triliun (90,4 persen), pajak bumi dan bangunan Rp18,86 triliun (98,7 persen), dan pajak lainnya Rp7,31 triliun (85 persen).
Ia mengatakan target penerimaan pajak tak akan tercapai karena dinamika ekonomi yang menyebabkan asumsi makro meleset. Misalnya, nilai tukar rupiah yang hanya berkisar Rp14.250 per dolar AS atau lebih kuat dibandingkan asumsi yang Rp15.000 per dolar AS.
Kemudian, proyeksi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang diperkirakan hanya akan mencapai US$63 per barel dari asumsi APBN 2019 sebesar US$70 per barel.
"Hal-hal yang menunjukkan penurunan direfleksikan dalam penerimaan pajak," katanya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)