Hal itu diungkapkan Budi demi mengantisipasi terhentinya operasional apabila terjadi pemadaman listrik massal (blackout) seperti yang terjadi kemarin. Kemarin, blackout menimpa sebagian besar Pulau Jawa.
Diketahui tidak hanya rumah tangga yang terdampak listrik mati, tetapi juga layanan publik, seperti kereta rel listrik (KRL), MRT, toko ritel, dan pusat-pusat perbelanjaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkaca dari pengalamannya saat masih menjabat sebagai pimpinan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dan bos PT Angkasa Pura II (Persero), Budi menuturkan sarana dan prasarana perhubungan yang di bawah kendalinya selalu dilengkapi dengan pembangkit sendiri. Sehingga, operasionalnya tidak selalu bergantung dengan pasokan listrik umum.
Selain bisa menyediakan listrik sendiri, pembangkit mandiri juga bisa digunakan operator transportasi untuk menghasilkan pendapatan lain-lain. Sebab, jika suatu saat operator kelebihan listrik, toh listrik tersebut bisa dijual kembali.
Menurut dia, skema investasi pembangkit ini bisa menggunakan belanja modal tersendiri atau melakukan lelang kepada pihak ketiga. Ia bilang sudah sepatutnya transportasi ibu kota memikirkan hal tersebut agar pelayanan tetap prima.
"Apalagi, ini transportasi di ibu kota kan, satu kegiatan yang seharusnya mencerminkan harga diri bangsa ini," jelasnya.
Kemarin, pemadaman listrik massal sempat melumpuhkan kegiatan publik. PT MRT Jakarta mengatakan empat kereta terpaksa berhenti di stasiun bawah tanah, sehingga evakuasi penumpang harus dilakukan. Sementara itu, sebanyak 240 rangkaian commuter line terpaksa dihentikan karena padamnya setrum.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)