Ia mengatakan BI akan meneruskan pelonggaran kebijakan moneter, seperti penurunan tingkat suku bunga acuan, untuk memberi stimulus bagi perekonomian domestik.
Menurut dia, hal itu perlu dilakukan lantaran ketidakpastian ekonomi global terus berlangsung dan dikhawatirkan mengusik kinerja perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pelonggaran kebijakan moneter, mantan anggota dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu juga memberi sinyal pelonggaran kebijakan makroprudensial juga akan diteruskan. Salah satunya pelonggaran setoran cadangan kas di BI atau yang dikenal dengan istilah Giro Wajib Minimum (GWM).
Lebih lanjut, ia mengatakan pelonggaran kebijakan dilakukan agar investasi dan pertumbuhan kredit bank bisa tumbuh positif dan cepat. Bila tumbuh, kedua hal itu bisa menjadi sumber likuiditas bagi industri dan masyarakat untuk menggerakkan roda perekonomian dalam negeri.
Kedua indikator itu, katanya, bisa menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi ketika indikator ekspor tak cukup bisa diandalkan. Terutama akibat tertekan perekonomian global dan harga komoditas yang menurun.
"Perlambatan ekonomi China dan AS memberikan dampak ke ekspor karena kedua negara ini major trading partner kami," terangnya.
[Gambas:Video CNN]
Destry kembali menekankan bahwa kehadirannya di BI akan membuat bank sentral nasional terus berada di pasar guna menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan sistem keuangan. BI akan terus melakukan bauran kebijakan untuk mencapai stabilitas itu.
"Market tidak perlu panik sebab guncangan ini sifatnya sesaat. BI tetap akan berada di pasar untuk mewaspadai pergerakan dan stabilitas di sektor keuangan," tandasnya. (uli/lav)