Pemerintah Tawarkan Sukuk Tabungan ST005 Berkupon 7,4 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 08/08/2019 13:05 WIB
Pemerintah Tawarkan Sukuk Tabungan ST005 Berkupon 7,4 Persen Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah kembali menerbitkan Surat Utang Negara Syariah alias Sukuk Tabungan berseri ST005 bertenor dua tahun, dengan imbal hasil atau kupon sebesar 7,4 persen per tahun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman menyebutkan masa penawaran sukuk akan dimulai pada hari ini, 8 Agustus sampai 21 Agustus 2019 mendatang.

Perhitungan imbal hasil berasal dari tingkat bunga acuan Bank Indonesia (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebesar 5,75 persen ditambah jarak yang ditetapkan sebesar 165 basis poin (bps). Imbal hasil ini berlaku untuk periode pertama pembelian yang dibayar pada 10 Oktober 2019 dan tanggal 10 November 2019.


Penerbitan sukuk akan menggunakan skema imbal hasil mengambang (floating with floor). Artinya, imbal hasil yang bisa didapat pembeli sukuk tidak akan berubah sampai masa jatuh tempo nanti.


"Tingkat imbalan atau kupon berikutnya akan disesuaikan setiap tiga bulan pada tanggal penyesuaian imbalan sampai dengan jatuh tempo," ungkap Luky di kantornya saat peluncuran ST005 di Jakarta, Kamis (8/8).

Untuk pemesanan sukuk, masyarakat atau calon pembeli bisa mengaksesnya melalui penawaran elektronik alias online di situs resmi Kemenkeu, yakni www.kemenkeu.go.id/sukuktabungan.

"Penerbitan ST005 secara online untuk mempermudah akses masyarakat berinvestasi di SBSN ritel," ujarnya.

Proses pemesanan, masyarakat mula-mula harus melakukan registrasi atau pendaftaran. Selanjutnya, melakukan pemesanan. Terakhir, menuntaskan pembayaran dan settlement.


Tak hanya secara online, masyarakat juga bisa mengakses 22 mitra distribusi sukuk pemerintah, yakni para lembaga keuangan. Mulai dari PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara lndonesia (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat lndonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Kemudian, PT Bank DBS Indonesia, PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank Panin Tbk, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BRISyariah Tbk. Dapat juga melalui PT Trimegah Sekuritas lndonesia Tbk, PT Danareksa Sekuritas, PT Bank Mandiri Sekuritas, PT Bareksa Portal lnvestasi, PT Star Mercato Capitale (Tanamduit), PT Nusantara Sejahtera Investama (Invisee), PT lnvestree Radhika Jaya, dan PT Mitrausaha Indonesia Group (Modalku).

Pada penawaran kali ini, pemerintah menargetkan bisa memperoleh pembelian sukuk mencapai Rp2 triliun. Nominal ini cenderung sama dengan target-target penerbitan sukuk yang sudah dilakukan pemerintah sebelumnya.


Namun pada realisasinya, permintaan pembelian sukuk selalu melampaui target pemerintah. Pemerintah berharap hal ini menjadi pertanda positif dari respons masyarakat terhadap pendalaman pasar keuangan di Indonesia.

"Kami ingin menyediakan alternatif investasi bagi masyarakat, mendukung terwujudnya keuangan inklusif, serta memenuhi sebagian pembiayaan APBN 2019," katanya.

Pasalnya, pendalaman pasar keuangan merupakan salah satu fondasi agar terwujud sistem keuangan yang stabil dan kuat. Tujuannya, agar ketika ada goncangan ekonomi, Indonesia tidak bergantung pada dana-dana dari investor yang ada di luar negeri, namun memiliki daya topang dari investor domestik.

"Lagi pula instrumen ini merupakan instrumen investasi yang dijamin oleh undang-undang, sehingga kalau ditanya OJK aman atau tidak, ya ini sudah yang paling aman," tandasnya.

[Gambas:Video CNN] (uli/lav)