Sebelumnya, suatu perekonomian disebut mengalami resesi jika pertumbuhannya mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.
"Eskalasi perang dagang telah melampaui ekspektasi dan taruhannya tinggi untuk perekonomian global. Peluang terjadinya resesi global untuk 12 hingga 18 bulan ke depan meningkat dari 40 persen hingga 50 persen," ujar Kepala Ekonom Moody's Analytics untuk Asia Pasifik Steve Cochrane dalam risetnya yang berjudul 'Living on the Tail Risk', dikutip Kamis (8/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, sambungnya, konsumsi merupakan roda penggerak utama perekonomian AS. Apabila konsumsi melambat, risiko resesi di AS semakin meningkat dan akhirnya turut menyeret pertumbuhan ekonomi global.
Sebagai respons atas serangan tarif AS, China telah mengenakan tarif terhadap 92 persen pada produk impor asal AS. Tak hanya itu, memanasnya perang dagang antara keduanya juga menekan mata uang yuan terhadap dolar AS. Pelemahan yuan bakal membuat produk China menjadi lebih kompetitif.
Di Asia, sambung Cochrane, imbas perang dagang keduanya terasa melalui terganggunya rantai pasok. Saat ini, permintaan ekspor di kawasan Asia-Pasifik merosot seiring menurunnya permintaan barang setengah jadi dari industri manufaktur China.
"Ekspor dan impor di Asia telah merosot sepanjang 2019, seiring perang dagang yang memperburuk siklus penurunan yang ada," jelasnya.
Untuk menahan risiko perang dagang, bank sentral di sejumlah negara telah menjalankan kebijakan pelonggaran moneter. Dengan cara itu, bank sentral berharap bisa mendongkrak permintaan domestiknya.
Di sisi lain, memanasnya perang dagang antara China-AS dapat memberikan dampak positif pada perekonomian negara yang biaya produksinya rendah, seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini, sentra produksi barang yang berbiaya murah mulai beralih dari China ke negara-negara lain.
Peralihan ini sebenarnya sudah terjadi seiring peningkatan upah pekerja di China.
[Gambas:Video CNN] (sfr)