Sebelumnya, resesi ekonomi merupakan kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.
"Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak peningkatan perang dagang," ujar perusahaan jasa keuangan asal AS itu dalam catatan kepada nasabahnya, dikutip dari Antara, Senin (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS juga menyebut China sebagai manipulator mata uang karena nilai yuan yang kian melemah. Namun, China membantah telah memanipulasi mata uangnya demi meningkatkan daya saing produknya.
Melihat perkembangan tersebut, Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV 2019 sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan akibat perang dagang juga memicu perusahaan untuk memangkas belanja modalnya.
Selain Goldman Sachs, sebelumnya, lembaga internasional Moody's Analytics juga memperkirakan peluang terjadinya resesi ekonomi global meningkat untuk setahun hingga 1,5 tahun ke depan.
"Eskalasi perang dagang telah melampaui ekspektasi dan taruhannya tinggi untuk perekonomian global. Peluang terjadinya resesi global untuk 12 hingga 18 bulan ke depan meningkat dari 40 persen hingga 50 persen," ujar Kepala Ekonom Moody's Analytics untuk Asia Pasifik Steve Cochrane dalam risetnya yang berjudul 'Living on the Tail Risk'.
[Gambas:Video CNN] (antara/sfr)