Pertumbuhan laba ditopang kontribusi kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Intersert Income/NII) sebesar 4,36 persen dari Rp38,25 triliun menjadi Rp39,92 tiliun. Selain itu, pertumbuhan laba juga disebabkan kenaikan pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) sebesar 17,86 persen dari Rp10,28 triliun menjadi Rp12,11 triliun.
Namun, laba itu tumbuh melambat dari periode yang sama 2018 lalu sekitar 10,78 persen. Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan perlambatan pertumbuhan laba dipicu kinerja anak perusahaan yang diakuisisi perseroan pada tahun lalu, yakni Danareksa Sekuritas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain penurunan pertumbuhan laba, perseroan juga mengalami perlambatan margin bunga bersih (Net Interest margin/NIM) dari 7,64 persen menjadi 7,02 persen. Suprajarto menuturkan penurunan NIM disebabkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) sebanyak enam kali sepanjang, sehingga meningkatkan beban biaya dana (cost of fund).
"Kalau NIM turun memang dampak kemarin BI menaikkan BI 7-DRRR sampai enam kali meskipun dalam semester sudah menurunkan tapi dampak enam kali itu luar biasa bagi biaya bunga kami dan otomatis cost of fund menjadi naik," katanya.
Penyaluran kredit didominasi pertumbuhan kredit segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebesar 13,07 persen dari Rp602,72 triliun menjadi Rp681,5 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 76,72 persen porsi penyaluran kredit BRI.
"Kami targetkan di tahun 2022 komposisi penyaluran kredit UMKM BRI mencapai 80 persen dari total portofio kredit BRI," tuturnya.
BRI menyalurkan kredit UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Juni 2019, BRI tercatat menyalurkan KUR sebesar Rp50,29 triliun kepada lebih dari 1,2 juta debitur. Penyaluran itu setara dengan 57,8 persen dari target yang diberikan pemerintah sebesar Rp86,97 triliun di 2019.
[Gambas:Video CNN]
Kenaikan kredit memicu pertumbuhan aset sebesar 11,7 persen dari Rp1.153 triliun menjadi Rp1.288,2 triliun. Lalu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 12,78 persen dari Rp838 triliun menjadi Rp945,05 triliun.
Akan tetapi, pertumbuhan kredit tak diimbangi dengan perbaikan kualitas kredit. Tercatat Non Performing Loan (NPL) secara gross naik dari 2,33 persen menjadi 2,51 persen. Ia bilang menurunnya kualitas kredit dipicu kinerja anak usaha. Namun, tahun ini ia meyakini kualitas kredit akan membaik di kisaran 2 persen.
"Semua anak usaha, kami tidak mau lagi ada yang disembunyikan NPL nya. Tahun kami sudah lakukan simulasi mereka juga bisa memberikan kontribusi pada akhir tahun nanti," katanya. (ulf/agt)