"Subsidi dalam APBN ini basisnya adalah volume, dikaitkan dengan harga. Harga dipengaruhi nilai tukar dan harga komoditas," ucap Sri Mulyani, Selasa (20/8).
Dalam RAPBN 2020, subsidi energi turun menjadi Rp137,5 triliun dari prospek 2019 yang mencapai Rp142,6 triliun. Subsidi ini terdiri dari listrik, serta bahan bakar minyak (BBM) dan liquified Petroleum gas (LPG).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi harga dinamikanya mungkin tidak sama persis dengan asumsinya," ucapnya.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menyatakan penurunan subsidi energi pada 2020 karena belum memperhitungkan kurang bayar subsidi secara menyeluruh seperti pada tahun ini. Dengan demikian, secara nominal jumlah yang dibutuhkan lebih rendah.
Namun begitu, ia memastikan semua ini tak akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Sebab, jumlah volume BBM dan LPG yang akan digelontorkan tak berkurang seperti nilai subsidinya.
"Tidak ada pemangkasan (volume dari subsidi yang diberikan)," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
Diketahui, volume konsumsi BBM tahun depan sebanyak 15,87 juta kiloliter. Angka itu justru naik dari tahun ini yang hanya 14,5 juta kiloliter.
Sementara itu, target volume LPG tabung 3 kg sebanyak 6,98 juta metrik ton atau hampir sama dengan tahun ini. Bila diurutkan sepanjang 2015-2018, konsumsi LPG tabung 3 kg naik dari 5,6 juta metrik ton pada 2015 menjadi 6,53 juta metrik ton pada tahun lalu. (aud/lav)