Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI Kalimantan Timur Bagus Susatyo menuturkan dua kecamatan yang rencananya digunakan sebagai lokasi ibu kota baru, yakni Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kecamatan Sepaku Semol di Penajam Paser Utara selama ini memang tidak dikenal sebagai pusat permukiman.
Di satu sisi, Kecamatan Samboja sangat dekat dengan operasional Blok Mahakam yang dulu dikelola Total E&P Indonesie. Sementara itu, Kecamatan Sepaku Semol hanya berisi lahan perkebunan kelapa sawit serta pertambangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam hal ini, pengembang tak hanya memikirkan tanah sebagai faktor utama di dalam mengembangkan kawasan. Pengembang tentu harus memikirkan utilitasnya juga," papar dia.
Karenanya, ia mengaku tak heran jika pengembang properti besar sejauh ini masih fokus mengembangkan sayap di daerah konsentrasi padat penduduk di Kalimantan Timur, yaitu Samarinda dan Balikpapan.
Kemudian, Sinarmas Land Group juga tengah menggarap proyek barnama Grand City di Balikpapan. Di dalam proyek tersebut, perusahaan disebutnya sudah memanfaatkan lahan 180 hektare (ha) dari total lahan yang dikuasai sebesar 220 ha.
Sementara itu, Ciputra Grup juga disebutnya masih mengembangkan proyek di Samarinda dan Balikpapan. "Kalau Ciputra memang dari dulu sudah menjadi salah satu pemain utama di sektor properti Kalimantan Timur," jelasnya.
Kendati demikian, ia berharap penetapan ibu kota baru mampu menggairahkan kembali permintaan sektor properti di Kalimantan Timur. Sebab, menurutnya, penjualan properti di provinsi tersebut sempat lesu lantaran harga minyak dunia dan komoditas pertambangan yang sempat turun.
"Tahun lalu, ruko sulit dijual. Rumah kelas menengah memang ada yang terjual, namun tidak seperti biasanya. Sementara menjual rumah kelas atas pun sudah setengah mati. Sehingga, kami harap wacana ibu kota baru ini bisa bikin gairah baru bagi properti meski dampaknya tidak saat ini," tandas Bagus.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)