Direktur Utama Vale Indonesia Nico Kanter menjelaskan besarnya kontribusi tersebut membuat larangan ekspor bijih nikel kadar rendah mempengaruhi pasokan dunia. Harga nikel pun berpotensi terkerek naik.
Mengutip Reuters, harga patokan nikel di bursa London Metal Exchange (LME) naik 1,6 persen menjadi US$15.910 per ton pada Selasa (27/8). Harga nikel berhasil melampaui harga timah yang tercatat sebesarUS$15.765 per ton untuk pertama kalinya sejak Septermber 2010.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, larangan ekspor bijih nikel kadar rendah juga mendorong rencana pemerintah mengembangkan kendaraan listrik. Sebab, bahan baku baterai mobil listrik adalah nikel dengan kadar 1,4 persen ke bawah yang notabene saat ini masih diekspor.
Namun demikian, bukan berarti ia mendukung percepatan larangan ekspor bijih nikel kadar rendah dengan mengabaikan perusahaan yang telah mengantongi kontrak pembelian jangka panjang. Ia meminta pemerintah lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan utama terkait kuota ekspor.
"Tetapi perlu dilihat apakah itu kontrak jangka panjang atau spot, hanya untuk mendapatkan pemasukan sementara, itu yang perlu dilihat," ujarnya.
Gandeng China Bangun Smelter
Perseroan dengan kode saham INCO itu mengaku akan menggandeng perusahaan asal China untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture). Perusahaan JV itu nantinya akan membangun fasilitas smelter feronikel di Bahadopi, Sulawesi Tengah.
Namun, perseroan belum mau mengungkapkan porsi kepemilikan saham pada perusahaan JV itu lantaran masih dalam tahap negosiasi.
"Saat ini sudah kerucut satu partner dan tahap final negosiasi komersial, harapannya segera rampung. Memang negosiasi komersial ini lebih panjang dari yang diekspektasi," kata Direktur Vale Indonesia Febriani Eddy.
Ia menuturkan kapasitas produksi smelter Bahadopi ini mencapai 70 ribu ton. Sedangkan nilai investasinya berkisar US$1,6 miliar-US$1,8 miliar. Untuk pembangunan smelter ini perusahaan akan berkongsi dengan perusahaan China tersebut.
Selain pembangunan smelter Bahadopi, perseroan juga tengah mempersiapkan pembangunan smelter di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Dalam hal ini, perusahaan bekerja sama dengan perusahaan pertambangan asal Jepang Sumitomo. Rencananya, Sumitomo akan memiliki porsi mayoritas di Blok Pomalaa sebesar 51 persen.
Febriani mengungkapkan total investasi pembangunan smelter mencapai US$2,5 miliar. Sedangkan untuk investasi tambang di Blok Pomalaa mencapai US$300 juta.
[Gambas:Video CNN]
"Sekarang yang menjadi tantangan terbesar di Pomalaa adalah perizinan. Kami sedang proses Amdal dan harapannya segera dapat (izin Amdal) lalu proses izin lainnya," ujarnya.
Direktur Vale Indonesia Bernandus Irmanto menambahkan smelter Pomalaa inilah yang akan memproduksi bahan baku baterai mobil listrik. Ia memprediksi pembangunan pabrik smelter bakal memakan waktu 4-5 tahun. Pembangunannya sendiri diprediksi belum bisa dimulai tahun ini karena proses perizinan cukup panjang.
"Tidak akan selesai (perizinan tahun ini). Mungkin tahun depan atau 2021, karena perizinan panjang," tuturnya. (ulf/lav)