Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.263 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.235 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.255 per dolar AS hingga Rp14.268 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,05 persen, peso Filipina melemah 0,05 persen, dan yuan China melemah 0,05 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sela-sela KTT G7, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa delegasi dagang China telah menghubungi perwakilan AS untuk melanjutkan lagi negosiasi terkait perang dagang. Namun, China mengatakan tidak pernah menelepon pihak AS terkait hal tersebut.
Bahkan, China malah mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan AS yang menetapkan bea masuk yang lebih tinggi bagi impor asal China.
[Gambas:Video CNN]
"Bisa jadi, dalam waktu dekat perang dagang kedua negara akan kembali meningkat dan membuat laju perekonomian kedua negara mengalami hard landing," terang Ibrahim, Rabu (28/8).
Lebih lanjut, eskalasi perang dagang antara AS dan China malah membuat tanda-tanda resesi AS kian kentara. Sebab, imbal hasil obligasi AS dengan tenor dua tahun kini sudah melampaui imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun.
Kondisi yang lazim disebut inverted yield curve ini menandakan bahwa pelaku pasar tidak begitu optimistis dengan ekonomi AS di jangka panjang. Ini sekaligus menandakan bahwa ekonomi AS cenderung berisiko di jangka pendek.
"Hal ini bisa menjadi sinyal resesi. Sebab, di dalam kondisi normal, yield tenor panjang seharusnya akan lebih tinggi mengingat obligasi tenor panjang pasti lebih berisiko ketimbang tenor pendek," jelas dia.